MEMAAFKAN SEBAGAI SOLUSI PASCAKONFLIK, MUNGKINKAH?

Di Indonesia pernah ada beberapa bencana sosial yang disebabkan oleh faktor pertikaian antar manusia seperti konflik antara pemerintahan Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka, Timor-Timur, konflik antar etnis di Sampit, konflik di Wamena yang terjadi tidak begitu lama ini, yaitu pada tahun 2019. Bencana sosial biasanya memiliki durasi terjadinya lebih lama dibandingkan dengan bencana alam. Dampak yang sama seperti bencana alam yang bisa juga terjadi seperti munculnya gelombang pengungsian, kerugian materi, dan korban jiwa. Selain itu, khas lain yang muncul sebagai dampak adalah memunculkan rasa trauma mendalam dan adanya permusuhan ataupun dendam. Dua kondisi emosi negatif ini akan bisa menimbulkan luka psikologis yang perlu ditangani secepatnya karena jika dibiarkan luka tersebut tentu akan bisa menjalar kemana-mana dan semakin lama akan menjadi semakin parah sehingga akan semakin kecil kemungkinannya untuk disembuhkan.


Bencana yang disebabkan oleh faktor alam ataupun gagal teknologi dan wabah penyakit membuat manusia berfikir bahwa adanya kekuatan ekternal di luar kendali manusia, bahkan bisa juga dikaitkan dengan hukuman yang diberikan kepada manusia atas kesalahan terhadap lingkungan. Walaupun pada dasarnya, tidak semua bencana alam benar-benar murni tanpa ada campur tangan manusia didalamnya. Namun, jika bencana yang diakibatkan konflik sosial ataupun kemanusiaan akan dianggap sebagai suatu hal yang lebih sulit ditolerir (Lopez-Ibor, 2005). Cerita-cerita konflik seperti adanya eksodus pengungsian, kematian orang tua akan menjadi pengalaman pahit yang sulit dilupakan. Hal ini akan menjadi cerita kepada generasi berikutnya sehingga bisa menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya dendam yang turun temurun.


Rantai permusuhan ini tentunya akan bisa menyebabkan konflik yang tidak berkesudahan dan menimbulkan bertambahnya kerugian baik secara korban jiwa maupun materi. Eileen R Borris menulis dalam buku Handbook of International Disaster Psychology mengenai The Healing Power of Forgiveness and The Resolution of Protracted Conflits menyatakan bahwa keluhan-keluhan antar golongan di masa lalu biasanya telah diselesaikan secara simbolis untuk tujuan politik dan ekonomi, tetapi hal penting yang perlu diingat adalah orang-orang dimanapun rentan terhadap kata-kata dusta yang akan selalu dibandingkan dengan ingatan kolektif mereka yang berisikan mengenai luka-luka yang belum sembuh. Perlu adanya asesmen dan intervensi psikologis yang tepat agar menjadi solusi yang bisa berperan untuk memutus rantai permusuhan ataupun dendam yang bisa membuat konflik menjadi lebih lama.


Salah satu hal yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu adalah meminta maaf dan bagaimana agar para penyintas juga bisa memberikan maaf. Namun, jika permintaan maaf dilakukan tanpa adanya proses perubahan maka bisa dianggap hanya sebagai manipulasi untuk kepentingan salah satu golongan. Hal ini akan menjadi sulit dilakukan bagi penyintas untuk menerimanya. Proses memaafkan memang merupakan suatu proses yang multidimensional, terutama pada penyintas bencana sosial akibat konflik kemanusiaan. Terkadang penyintas mau memaafkan namun belum tentu mau untuk mengampuni perbuatan tersebut sehingga perlu tetap adanya penegakan hukuman yang tegas ataupun perjanjian perdamaian antar kedua belah pihak. Mereka memaafkan, tetapi bukan berarti juga menganggap bahwa konflik yang ditimbulkan itu merupakan hal yang bisa mereka terima. Memaafkan juga tidak sama dengan rekonsiliasi dimana memaafkan merupakan suatu proses internal dan respon psikologis terhadap suatu luka. Sedangkan, rekonsiliasi merupakan perilaku bersama-sama antara dua pihak yang saling bertikai sehingga bisa jadi seseorang memaafkan tanpa harus kembali bersama namun akan sulit jika harus bersama-sama namun belum dalam kondisi memaafkan (Reyes & Jacobs, 2006).


Bagaimana jika penyintas memaafkan namun tetap tidak bisa melupakan konflik yang sudah membawa banyak kerugian ataupun dampak negatif pada dirinya dan keluarganya. Akankah penyembuhan lukanya tetap efektif? Memaafkan tapi tidak melupakan bisa dianggap menjadi penghambat bagi penyembuhan luka ataupun menurunkan dampak negatif yang dirasakan. Perlu adanya dorongan yang kuat dari sendiri dan bantuan dari berbagai pihak agar proses memaafkan ini benar-benar efektif untuk membantu penyembuhan luka psikologis yang terjadi. Durasi proses pencapaiannya akan bisa berbeda-beda pada masing-masing individu. Hal ini bergantung pada banyak hal seperti seberapa besar kerugian yang dialami, seberapa lama konflik tersebut sudah terjadi, pemaknaan terhadap konflik itu sendiri, faktor religiusitas, usaha yang dilakukan dari “penyebab konflik”, dan lain sebagainya.


Usaha memaafkan sebagai solusi paska konflik diharapkan merupakan suatu pemaafan yang tercapai secara komunitas ataupun kelompok besar yang merasa sebagai korban dari konflik tersebut. Pada dasarnya, hal ini memang dimulai dari masing-masing individu yang berada dalam kelompok tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut mulai dengan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri secara mandiri, bisa dilakukan dengan evaluasi diri sendiri secara mendiri ataupun perlu adanya praktisi psikologi yang membantu agar terjadi percepatan dalam proses pemaafan. Pada proses awal, perlu adanya self-inquiry bagi penyintas untuk bisa mengevaluasi, mencari tahu apa yang menjadi mekanisme pertahanan ego yang sudah dipakai untuk menolak permintaan maaf. Mungkin sudah terjadinya proses penolakan, represi, ataupun proyeksi sebelumnya yang perlu untuk dihapuskan terlebih dahulu. Terkadang proses ini juga perlu adanya dorongan dari faktor eksternal seperti bagaimana tuntutan agama, masyarakat, hukum untuk bisa memaafkan sebagai suatu hal yang baik. Namun, tentunya proses memaafkan yang diharapkan untuk level paling tinggi karena jika memaafkan untuk demi terbentuknya keharmonisan masyarakat kembali dan memaafkan sebagai bentuk rasa cinta. Jika hal ini bisa penyintas capai tentu bisa menjadi suatu kekuatan untuk menyembuhkan luka dan membentuk kehidupan baru dengan lebih baik.

 

oleh Septi Mayang Sarry, M.Psi., Psikolog ( Dosen Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas)

 

Forgiveness is a focus on the present which frees us from the past and open up the future – S.E. Fillipaldi

 

REFERENSI

Lopes-Ibor, J. J., Christodoulou, G., Maj, M., Sartorius, N., Okasha, A. (2005). Disaster and Mental Health. England: Wiley.
Neria, Y., Galea, S., Norris, F. H. (2009). Mental Health and Disaster. United States of America: Cambridge University Press.
Reyes, G & Jacobs, G. A. (2006). Handbook of International disaster psychology. United States of America: Praeger Publication.
Undang-Undang No. 24. (2007). Penangulangan Bencana.
World Health Organization. (2002). Disaster and Emergency Definition. Training Package. Adis Ababa: Panafrican Emergency Training Center.

 

Share This Post: