RAMBUT KERITING

            "Aku tak suka rambut keriting!"

 

            Kalimat itu kau salakkan dengan garang, seakan-akan memuntahkan amarah yang puluhan tahun mengendap dalam hatimu. Aku pikir, jangan-jangan amarah itu bahkan telah mengental lekat dan mencengkeram setiap utas rambut yang kau miliki. Ini memang bukan keluhan yang pertama, namun ini pertama kalinya kulihat amarah itu begitu menyentak.

 

            "Kau tahu, kadang-kadang saat sendiri, aku menyumpahi Ibuku yang begitu bodoh. Mau-maunya dia dipersunting Ayahku. Padahal, kata Nenek, dulu Ibu hendak dijodohkan dengan seorang pria tampan berambut lurus. Seandainya saja itulah yang dilakoni Ibu, tentu rambutku tak perlu kribo duo-duo begini," keluhmu sembari menarik-narik ujung rambut.

 

            Aku menatap wajah di depanku sembari tertawa. Rasanya lucu menyimak setiap kalimat yang keluar dari bibir tipismu itu. Seperti rentetan kata yang kerap meluncur dari bibir anak-anak. Tapi seringaimu yang mencuat seketika, membuat tawaku urung mengembang sempurna.

 

            "Kau boleh saja menertawakanku, karena rambutmu yang lurus, tebal dan hitam itu tak pernah menjadi batu sandungan dalam hidupmu." Aku menatapmu dengan dahi berkerut. Sejujurnya, aku tak mengerti maksud kalimatmu. Seberat apakah masalah yang bisa dihadirkan oleh rambut keriting, sehingga disamakan sebagai batu sandungan? Ah, perempuan. Tanpa sadar aku mengelus rambutku.

 

            Kau menyipitkan mata menatapku. Sepertinya kau berusaha mencari tahu, apakah rambut lurusku juga pernah membawa masalah dalam hidupku.

 

            "Aku tak berlebihan." Nada suaramu mulai melunak, tak sekeras awalnya. "Sejak aku kecil, rambut keriting ini sudah menjadi penyesalanku yang terbesar. Ibu tak pernah memanggil namaku. Begitu pula kakak, saudara dan teman-temanku. Mereka melupakan namaku yang indah, meskipun hampir setiap hari aku meneriakkannya ke telinga mereka. Mereka menyebutku 'Si Keriting'. Ya, itulah panggilanku." Kamu menelan ludah dengan susah-payah, seakan sebuah batu mengganjal di kerongkongan. Aku berusaha memahami, tentang tak mudahnya menerima julukan sebagai nama utama. Terlebih julukan yang tak disukai. Boncel. Ah, itu aku.

 

            "Semuanya berlanjut hingga saat ini. Tak ada yang memanggil namaku kecuali Ayah dan Nenek. Kenapa? Ya, karena tak mungkin mereka menyebutkan julukan yang sama untuk diri mereka sendiri, bukan? Ayah dan Nenek juga keriting sepertiku. Setelah remaja, masalahku bertambah. Aku selalu gagal menjuarai kontes model karena rambut keriting ini." Kamu menarik ujung rambut dengan gemas. Aku hanya bisa meringis melihat hal itu.

 

            "Tak ada orang yang tertarik dengan rambut keriting, sekalipun wajahmu cantik. Juri selalu memilih pemenang berambut lurus, hitam, tebal dan panjang. Begitu juga para lelaki. Selalu menyukai gadis-gadis berambut seperti itu. Bahkan, teman sesama perempuan pun, lebih membanggakan temannya yang berambut demikian. Mungkin kau adalah perkecualian dari semua orang yang kukenal. Entahlah, apakah kau yang aneh atau karena kau memang memiliki hati yang begitu tulus dalam menerima seseorang." Dipuji tiba-tiba begitu membuatku sedikit gugup, salah tingkah. Kutendang kerikil yang mengadang di ujung sepatu sambil mencoba tetap bersikap wajar.

 

            "Tak ada orang yang menyukai rambutku. Bahkan tidak juga para pemilik perusahaan," keluhmu lagi. Kali ini kau menunduk demikian dalam, seakan menyembunyikan sesuatu di wajah. Ah ya, kau menyembunyikan airmata, karena tak lama kemudian kudengar lirih isakanmu.

 

            Aku bingung, tak tahu harus melakukan apa. Yang sebenarnya, aku benci dengan airmata. Aku tak suka orang menangis di depanku. Tapi apa yang harus kulakukan, kalau orang yang menangis kali ini di depanku adalah kamu? Apakah aku harus memalingkan wajah dan tubuhku, serta menulikan pendengaran? Tentu tak mungkin itu kulakukan padamu.

 

            "Sudahlah, jangan terlalu sensitif begitu." Aku meraih tanganmu dan menggenggamnya erat.         Sudah ratusan hari kulalui bersamamu dan sudah seringkali aku mendapatimu kesal, bahkan marah gara-gara rambutmu, tapi baru kali ini kau menangis. Tangis yang susah-payah coba kau hentikan. Meski semua sia-sia, karena buliran air itu bukannya berhenti, malah semakin meluncur deras.

 

            Aku tak tega. Hatiku bergemuruh. Sungguh, sebenarnya saat inipun sulit sekali bagiku untuk menahan tangis. Kau dan tangismu itu, benar-benar membuatku ingin menangis. Bukan karena rambut keritingmu, tapi karena tangis yang sejak kemarin-kemarin kutelan sendiri, kini bergantung rapuh di sudut mata. Lalu, tiba-tiba saja kau sudah menjatuhkan tubuhmu ke pangkuanku. Bahumu berguncang oleh tangis yang semakin keras.

 

            "Jangan menghakimi rambutmu seperti itu, Maya. Bisa jadi kau keliru. Kegagalanmu belum tentu karena rambut. Aku tak yakin, prosedur penerimaan pegawai juga mempersoalkan rambut. Bukankah ada banyak orang berambut keriting yang dipekerjakan sebagai pegawai di berbagai perusahaan dan instansi? Kau terlalu berlebihan." Aku menepuk punggungmu dengan lembut. Sungguh, saat ini sebenarnya aku yang sangat membutuhkan tepukan itu di punggungku. Tangismu tak lagi sekencang di awal. Kini hanya berupa isak dan senggukan saja.

 

            "Lantas, kenapa semua perusahaan yang kumasuki selalu menolakku dan menerima pelamar lain yang berambut lurus?!" Sergahmu sembari mengangkat tubuh dan kembali pada posisi sebelumnya, duduk di sisi kananku. Bahu kita saling bersentuhan.

 

            "Mungkin bukan karena rambut. Itu hanya kebetulan saja. Kebetulan si pelamar berambut lurus itu memiliki kriteria yang diinginkan oleh perusahaan dan kamu tidak." Dengus nafasmu kentara sekali menyuarakan ketidaksetujuan terhadap teoriku. Namun, kamu tak membantahnya.

 

            "Sa, aku ingin meluruskan rambut." Katamu kemudian, setelah hening sesaat. Aku menatap wajah oval di depanku dengan gusar. Ah, kamu mulai lagi..

 

            "Sa, boleh, kan?" Kamu mulai merengek. Aku memalingkan wajah, enggan menjawab.

 

            "Sa..."

 

            "Kita sudah pernah membahasnya, kan?"

 

            "Sekali ini saja, Sa.. Aku yakin takkan ada masalah dengan rambutku. Lihatlah.."  Pemilik sepasang mata bening di depanku, sontak mengenggam rambutnya dan menariknya berulang. "Rambutku kuat, kan?"

 

            "Tapi.."

 

            "Aku sudah lama tak alergi bahan kimia apapun. Sa, ayolah.."

 

            "Tapi, bagaimana kalau Ibumu..."

 

            "Ibu akan tahu kemudian. Itupun kalau ia masih dapat  melihat jelas. Ibu sudah terlalu tua. Aku bisa saja mengikat rambutku terus-menerus di depannya. Atau.., mungkin saja aku tak pulang mudik tahun ini." Aku mengeluh sesaat.

 

            "Bukankah itu sangat mahal, Maya?"

 

            "Aku masih punya sedikit uang lebih, sisa honorku bulan lalu." Kamu menjawab begitu mantap, seolah-olah meluruskan rambut itu menjadi jalan keluar terbaik dari semua masalahmu selama ini.

 

            "Kau tahu, setelah rambutku lurus nanti, aku akan melamar kembali ke berbagai perusahaan.   Aku akan buktikan padamu, bahwa rambut keriting inilah biang masalahku yang sebenarnya." Aku berpaling. Aku paham benar, takkan ada sesuatu pun yang bisa menghalangi bila itu sudah menjadi keinginanmu. Jadi kata-kataku, berikut ketidaksetujuan di dalamnya, takkan juga berarti apa-apa.

 

            "Sa..." Kamu menyentuh jemariku yang dingin. Kiranya itu tak menjadi perhatianmu.

 

            "Ini bukan hanya baik untuk sesaat saja. Akan banyak masalah yang bisa diselesaikan setelah rambutku lurus nanti." Kupikir, aku tak berhak marah ataupun melarang. Bukankah kamu perempuan dewasa yang bebas menentukan pilihan? Maka, mengangguklah aku. Berbinar matamu, indah sekali. Aku menyukainya. Selalu.

 

            Dua hari kemudian, kamu muncul di hadapanku. Dengan senyum sumringah, mata bercahaya dan tentunya, rambut lurus yang terlihat kaku. Meski harus kuakui, kamu cantik. Namun, bukankah kamu memang cantik? Dengan atau tanpa rambut keriting.

 

            Kamu tak berlama-lama di hari itu. Katamu, ada banyak hal yang akan kau kerjakan. Melamar pekerjaan, utamanya. Aku berdecak dalam hati, mengagumi semangatmu yang tak kenal menyerah. Kiranya, sejak hari itu, kau tak pernah lagi muncul di hadapanku. Kau menghilang, raib.

 

            Aku mencoba menelpon. Tak diangkat. Aku juga mendatangi tempat-tempat yang biasa kau datangi. Tak ada. Kau menghilang seiring hilangnya keriting di rambutmu.

 

            Meskipun setiap hari aku selalu memikirkanmu, toh ada banyak hal lain yang juga harus kukerjakan. Dan semua itu, membuat bayanganmu acap tenggelam. Walau sesekali kembali mengapung, ketika aku tengah sendirian menghitung-hitung hari yang begitu samar.

 

            "Sa..." Sebuah suara menyapaku di suatu sore yang berselimut mendung. Kamu.

 

            Aku tak terlalu terkejut dengan kedatanganmu, karena aku yakin kamu akan kembali. Bukankah, kamu memang selalu kembali? Namun yang membuatku terkejut adalah wajahmu. Wajahmu begitu kusam dan muram. Sepasang matamu bahkan tak bercahaya seperti terakhir kali kita bertemu.

 

            Kamu duduk sebelum aku sempat menawarkan. Aku memang begitu terkesima. Bukan karena rambut lurusmu, melainkan oleh lebam biru di tulang pipi kananmu. Ah, ada apa gerangan?

 

            "Sa...,..Sa.." Kamu mulai sesenggukan, menambah volume kebingunganku. Lalu, kamu menubrukku begitu saja. Memeluk kedua kakiku. Tangismu membanjir di sana, membasahi celana katunku dan mengaliri pori-poriku. Aku bingung, gugup.

 

            "Sa, maafkan aku. Aku bersalah. Aku mengabaikanmu." Aku terkesima. Tak tahu harus melakukan apa. Haruskah kupeluk kamu?

 

            "Kamu kenapa, Maya? Apa yang terjadi?" Akhirnya keluar juga dua pertanyaan itu dari bibirku.

 

            "Aku benci rambut lurus. Aku ingin rambut keritingku kembali lagi. Rambut lurus ini hanya membawa derita dan bencana!" Kata-katamu terasa begitu emosional di sela isak. Kubelai rambutmu yang berjuntai di pahaku dengan lembut.

 

            "Sudahlah, Maya. Tenangkan dulu dirimu. Setelah itu, ceritakan padaku apa yang telah terjadi sesungguhnya," pintaku, iba melihat tangismu yang tak berkesudahan. Meskipun tak menjawab, kupikir kamu menuruti kata-kataku. Tubuhmu yang tadi berguncang-guncang, kini mulai diam. Tangismu menyurut.

 

            Begitulah. Tak lama kemudian, kisah itu meluncur tersendat dari bibirmu. Tentang rambut lurus yang memerangkapmu dalam kubangan derita dan airmata. Aku terpaku. Menyimak kisahmu kali ini, rasanya seperti tengah mendengarkan program berita kriminal. Kudukku meremang. Hatiku mengeras oleh amarah. Astaga, mengapa hal bodoh itu bisa menimpamu? Ini semua salahku! Ya, salahku yang tak bersikukuh melarangmu meluruskan rambut.

 

            Kalimat demi kalimat yang meluncur kemudian dari bibirmu, tak lagi kuhiraukan. Aku sibuk meredam amarah, juga sesal yang tak putus.

 

            Kisahmu adalah kisah yang berawal dari rambut lurusmu. Rambut lurus memang berhasil mengantarkanmu menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang cukup besar. Jabatanmu, sesuai dengan apa yang kau inginkan.

 

            "Aku ingin menjadi humas," katamu suatu ketika, saat kita tengah berbincang tentang harapan yang ingin diwujudkan. Aku mengacungkan jempol ketika itu. Kupikir, itu memang keinginan yang pantas disandingkan dengan sifat ramah dan supelmu. Kamu nyaman berada di tengah banyak orang, juga senang bertemu dengan orang-orang baru. Berbeda seratus delapan puluh derajat denganku. Aku yang lebih suka berkurung sepi. Karena dalam keramaian aku hanyalah Si Boncel, lelaki pendek yang hanya layak ditertawakan. Dasi, jas, mobil dan jabatan tak memengaruhi penilaian orang padaku. Aku hanyalah Si Boncel.

 

            Kamu mendapatkannya, jabatan sebagai humas di perusahaan tersebut. Namun, kamu tak pernah menyangka, tentang job description yang tak tertulis di lembar yang kamu tanda tangani, termasuk melayani tamu perusahaan. Melayani untuk arti sesungguhnya dan melayani untuk keinginan mereka yang tersamar. Ah...ah.., aku sibuk mengutuki diri demi melihat ulang lebam di wajahmu. Pasti sakit bekas kepalan tinju itu, bukan? Aku ingin mengusapnya perlahan, namun urung karena kukira itu akan menyakitimu.

 

            "Sa, tolong simpan rahasia ini rapat-rapat, ya? Jangan beritahu siapapun, termasuk ibu. Kau...hanya kau yang tahu tentang aib ini. Aku memercayaimu. Karena kau lebih dari sahabat untukku." Kamu mendongak dan menatap tepat ke manik mataku. Coba bayangkan, ditatap dalam jarak begitu dekat oleh sepasang mata penuh luka yang memohon, mungkinkah aku akan sanggup menolaknya? Tentu saja tidak.

 

            Aku mengangguk. Selalu mengangguk. Seperti kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Selalu tersedia banyak anggukan untuk apapun permintaanmu. Hari itu berakhir demikian; kamu di sampingku dan aku hanya sanggup menikmati aroma rambutmu. Tak berkata, tak juga meminta. Kau sibuk dengan sesalmu. Aku bisa merasakan kesakitanmu. Karena jauh di dasar hati, kusimpan kesakitan yang sama saat mendengar seseorang telah merampas keutuhanmu. Kamu bahkan tak menyadari kalau tanganku berkeringat dan dingin saat menyentuh rambutmu. Maya, pernahkah sesekali kau sempatkan diri untuk menjenguk mataku?

 

            Kamu bukan tipe perempuan yang mudah terpuruk. Kamu selalu melewati sedih dan dukamu dengan segera, lalu kembali bergegas menyusun rencana. Kamu abai dengan sesuatu di dirimu yang telah terkoyak.

 

            "Tak ada waktu untuk menyesal berlarut-larut kan, Sa? Aku harus menyusun kembali kepingan cita-citaku. Aku tak bisa diam terus. Oh ya Sa, boleh aku pinjam duitmu sedikit? Aku sangat memerlukannya. Aku akan kursus singkat wira usaha. Akan kukembalikan secepatnya." Kamu memohon dengan wajah penuh harap. Mana mungkin aku tega untuk menggeleng, sungguhpun saat ini aku sangat memerlukan uang. Uang yang sangat banyak. Dan, mengangguklah aku.

 

            "Terima kasih, Sa!" Kamu memekik gembira dan ......ah, jantungku henti berdegup sesaat.

 

            Begitulah. Setelah semua keriangan itu menguap, kamu pergi. Kamu tak pernah kembali lagi sesudahnya. Aku diterjang kegelisahan yang panjang. Gelisah karena tak tahu bagaimana caranya untuk menemuimu, gelisah memikirkan bahwa kita bisa saja tak bertemu, juga gelisah memikirkan hari-hari selanjutnya yang akan tiba. Hariku.

 

*****

 

            Perempuan itu berdiri di hadapan sesosok tubuh yang membujur diam di ranjang. Ia  memandang wajah di depannya dengan terkesima. Wajah yang menghuni ruang ingatan sejak bertahun-tahun lampau. Wajah yang melekat kuat di ruang ingatan. Wajah yang menentramkan. Wajah seorang lelaki.

 

            Aku memang melihatmu sekarang, di sini. Tepat di depanku. Tapi mengapa wajahmu berbeda jauh dengan wajah yang kutinggalkan dua bulan lalu? Wajah yang masih memancarkan cahaya dan senyuman. Sekarang keduanya tak ada. Hanya seraut wajah pias dengan kedua mata memejam. Ah, kau. Pemalas. Bangunlah. Takkah kau ingin menyambutku seperti biasa? Takkah kau ingin memelukku lebih lama?

 

            Perempuan itu mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba menahan laju airmata yang tak sabaran. Ada sesal dan kemarahan yang bertumpang-tindih di dadanya, memukul-mukul dengan kekuatan yang sanggup melemaskan seluruh persendian. Ia terduduk dalam simpuh. Beberapa kalimat berseliweran di ruang ingatan, menggerus kekuatannya untuk bertahan tidak menangis. Kalimat-kalimat usang.          

 

            Maafkan aku, Sa. Aku tak mungkin menahan laju airmata ini lebih lama lagi. Aku tak sanggup. Sungguhpun aku mengerti, kau membenci airmata. 

 

            Perempuan itu berdiri. Mendekati sosok yang membujur diam, kaku. Ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya, mendaratkan selayang kecupan ringan di dahi yang kehilangan hangat.

 

            Aku tak sanggup berlama-lama di ruangan ini. Berdua denganmu di ruangan hampa kehangatan, menelisik setiap sudut wajahmu yang diam membeku, sungguh membuatku ingin berlari dan berteriak. Berlarilah aku kini, meninggalkanmu.

 

            Perempuan itu berlari meninggalkan ruangan, terus berlari di sepanjang koridor. Langkahnya terhenti di taman lengang. Ia berdiri di sudut taman, terisak, tergugu hingga meraung berkepanjangan. Sesekali teriakannya menghambur. Aku memanggilmu, Sa. Aku memanggilmu.   Ia terperangkap, putus asa. Kuyakini panggilanku sampai di telingamu. Namun aku ragu, kalau kau akan benar-benar datang untukku. Kau takkan pernah datang lagi. Takkan.

 

            Kali ini, saat aku datang, kau yang pergi. Kau tak menungguku kembali, seperti biasanya. Kau curang, Sa. Kau pergi tanpa pamit dan pelukan. Konon pula menyinggahkan sebuah kecupan yang kuinginkan. Marahkah kau padaku? Ya, kau pasti marah; karena uang yang seharusnya untuk membiayai operasi tumor yang bersarang di kepalamu, berpindah ke tanganku. Dasar bodoh!

 

            Aku yakin, kau benar-benar bodoh, sehingga hanya sanggup mencintai bayang-bayangku saja. Kau lelaki bodoh, Sa, karena kau tak pernah mengerti mengapa aku selalu kembali dan kembali lagi padamu. Saat ini, aku membencimu lebih dari rambut keritingku. Kau tahu kenapa? Karena rambut keritingku telah kembali lagi, sementara kau? Tidak. Tak akan pernah.

 

            Aku menatapnya. Menyimak kalimat-kalimatnya. Yang terucap, maupun yang berbisik di kedalaman kalbu. Aku hanya mampu demikian. Tak lebih.

Share This Post: