Aku Jadi Wali Nagari

Penulis: Robert Hendra Ginting,AP,MSi =- Hari ini aku akan dilantik atau dikukuhkan kata orang pemerintahan sebagai Wali Nagari di Kanagarian Impian oleh Bapak Bupati Madani. Terbayang satu kebanggan bagiku berdiri berhadapan langsung didepan beliau sebagai orang yang sama-sama memegang amanat kesejahteraan masyarakat. Aku berdiri di depan kaca menghapal teks sumpah yang diberikan Pak Camat seminggu yang lalu. Seperti pelantikan Gubernur yang kulihat di televisikah aku, dilihat seluruh Indonesia dan disiarkan di Dunia Dalam Berita? Terbayang geli aku menyamakan aku sebagai seorang Gubernur.

Istriku masih sibuk men-seterika baju putih pelantikan yang baru kemarin malam selesai dijahitnya. Selesai sudah, bergegas aku berpakaian dan menuju tempat pelantikan. Tersenyum aku saat beberapa ibu-ibu menyapaku “yo gagah inyiak wali-ko”. Kupercepat langkahku dan siap untuk di kukuhkan sebagai Wali Nagari Impian. Pengukuhan diriku sebagai Wali Nagari Impian selesai dan sukses.
Lelah juga seharian baralek gadang seperti ini. Malamnya sesuai kesepakatan dan permintaanku saat penyampaian visi dan misi di masa penjaringan Balon Wali Nagari Impian, banyak perantau, ninik mamak, alim ulama, bundo kanduang, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat bertandang ke rumahku.

Rumahku yang sempit terasa luas akan kehadiran mereka semuanya. Satu persatu mereka menyampaikan berbagai terobosan menurut pemikiran mereka untuk kemajuan Nagari Impian ini. Para perantau Nagari Impian yang tersebar di berbagai kota di Indonesia menyampaikan uneg-unegnya (keinginanya/cita-citanya), banyak hal yang baru kudengar. Pertama; mereka ingin agar Wali Nagari sesegera mungkin merumuskan kemungkinan-kemungkinan untuk membantu anak kemanakan yang berprestasi dan putus sekolah karena keterbatasan dana untuk melanjutkan sekolah. Kedua; agar Wali Nagari beserta perangkatnya menyusun pola yang mendata dan menyusun prioritas calon-calon tenaga kerja yang akan dipekerjakan di perusahaan-perusahaan atau relasi-relasi perantau di berbagai kota di Indonesia.

Jaringan bisnis rencananya akan di bentuk para perantau Nagari Impian untuk membantu anak nagari usia kerja yang belum bekerja. Yang ketiga: permintaan perantau kepada Wali Nagari dan masyarakat Nagari Impian agar menjadikan perantau sebagai mitra pembangunan nagari. Hal ini berarti permasalahan apapun yang menyangkut nagari perantau dilibatkan untuk proses penyelesainnya.
Semuanya yang hadir serius mendengarkan pandangan-pandangan yang dilontarkan para perantau tadi. Sambil minum kopi dan sanjai yang dihidangkan aku terus mengikuti dan mencatat berbagai inti terobosan yang dilontarkan. Beberapa tokoh pemuda terlihat asik berbisik saat anak gadisku melintas membawa menghidangkan kacang Matur di tengah-tengah kami.

Ninik Mamak kembali saya persilahkan untuk menyampaikan pesan-pesan dan masukan kepada kami semua. Namun untuk kedua kalinya, para Ninik Mamak memberikan kesempatan kepada Alim Ulama menyampaikannya terlebih dahulu. Haji Alam Takambang, begitu namanya alim ulama yang sangat dihormati karena kearifan dan kebijaksanaannya, menyampaikan beberapa usulan. Intinya ia meminta kepada Wali Nagari dan BPRN agar merumuskan peraturan nagari yang mewajibkan masyarakat untuk tidak berkeliaran saat-saat waktu sholat lima waktu tiba, terutama kepada generasi muda/anak sekolah. Kalau perlu ada sanksi adat dan nagari yang diberikan. Ia mencontohkan, disaat Bulan Ramadhan kita bisa mewajibkan masing-masing diri dan pribadi untuk menjalankan Ibadah dengan baik.

Yang berdagang menutup sementara saat berbuka puasa dan masa berpuasa berjalan. Mengapa kita tidak bisa mewajibkan diri dan masyarakat lebih “keras” untuk masalah ini, katanya. Kepada Wali Nagari dan BPRN juga disarankan bekerjasama dengan sekolah atau Dinas Pendidikan agar menyusun pola yang bekerja sama dengan Pengurus Masjid/Mushalla dalam pembinaan anak didik mulai dari SD-SLTA. Ia mencontohkan, bisa saja ada penilaian terhadap keseriusan anak didik dalam kehadiran dan pembinaan di saat sholat jumat maupun kegiatan-kegiatan pembinaan iman yang dilakukan Masjid/Mushalla. Diharapkan ini berpengaruh besar terhadap penilaian Raport siswa yang bersangkutan. Kembali ke surau, itu inti yang ingin ia sampaikan.

Sejenak kami hening dengan pemikiran masing-masing, aku sendiri berpikir sangat setuju dengan program ini. Apalagi sekarang penyakit masyarakat sudah tidak malu-malu lagi bersahabat dengannya. “Silahkan Pak-Bundo-adiak-adiak pamuda…dicicipin kue bolu-nya, buatan si Upik tuh” kataku bersahabat. Bundo Kanduang angkat bicara juga, namun penegasannya Cuma satu: beliau menginginkan agar di buat peraturan nagari mengenai kewajiban berpakaian muslimah kepada kaum wanita terutama kepada anak sekolah , generasi muda minang. Karena menurutnya, harus sejak dini ditanamkan menutup aurat sesuai perintah Agama dan budaya minang, yang sesungguhnya.

Pakaian muslimah yang dimaksud bundo kanduang itu adalah pakaian muslimah yang utuh dan tidak setengah-setengah. Para kaum Bapak yang hadir di rumah saling berpandangan mendengar kata dari bundo kanduang itu. Aku coba menebak, mungkin yang menjadi pemikiran mereka adalah pengertian pakaian Muslimah yang setengah-setengah itu apa maknanya. Belum selesai tanda Tanya yang ada dipemikiranku, Bundo Kanduang melanjutkan pembicaraannya: “Maksud saya, kalau berpakaian Muslimah itu pada hakekatnya menutup aurat secara keseluruhan, bukan seperti yang dipakai sebahagian anak daro selama ini. Rok panjang dan memakai jilbab namun bajunya mempertontonkan pusar-nya. Atau Baju lengan panjang, pakai jilbab, rok sampai ke menyentuh tanah, namun belahan rok di belakang sampai ke paha kaki.” Begitu katanya.

Ya benar juga sih….baru kami semua mengangguk tanda mengerti dan setuju. Hari sudah menunjukkan jam 18.10 WIB, sudah gelap di luar sana dan si Upik sudah menghidupkan lampu. Pak Haji menyarankan agar kita sholah maghrib berjamaah dulu, lalu makan dan nanti dilanjutkan lagi, Semuanya sepakat. Kemudian, Tokoh Masyarakat menyampaikan pesan yang membuat aku lama merenung. Katanya: kalau nagari merupakan Pemerintahan Terdepan maka Nagari harus mampu menempatkan dirinya di segala sisi dan bidang. Ada usulan yang menarik dilemparkannya, kalau di Kantor Bupati katanya, ada dinas-dinas dan kantor yang membantu pelaksanaan tugas Bupati dalam menyelenggarakan Pemerintahan Kabupaten.

Bagaimana kalau di Nagari juga diadakan seperti itu? Misalnya katanya: struktur organisasi di Nagari di bawah wali nagari di bentuk seksi-seksi seperti di Kabupaten; ada seksi sosial, ada seksi informasi dan komunikasi, ada seksi tenaga kerja, ada seksi pendidikan/SDM, bahkan dapat di buat seksi investasi dan hubungan antar perantau, dan seksi hubungan antar nagari. Iya juga ya, pikirku. Wah, kalau begini kan sangat terbantu aku. Nantilah aku bicarakan ke BPRN…namun ketua BPRN dan beberapa wakil ketuanya mengangguk-angguk setuju menanggapi usulan dari tokoh masyarakat yang Rektor Universitas Negeri Pintar itu.

Hari bertambah larut, Tokoh Pemuda yang berjiwa muda dan semangat kerja yang berapi-api si Sutan Mudo, mulai angkat bicara sambil memandangku. Namun belum sempat dia berbicara, suara dentuman keras memecah keheningan malam dan membuat kami tersentak semua kaget. Ini sering terjadi karena jalan di depan rumah memang berlubang besar sehingga mobil yang lewat dan masuk kelobang tersebut akan menimbulkan suara keras. Sebenarnya dulu sudah di programkan untuk mengaspal jalan ini, namun karena dipersimpangan jalan di dekat itu ada rumah pejabat maka pengaspalan jalan dialihkan ke jalan yang melewati rumahnya. Ya, sudahlah nanti kita goro-kan bersama kata pemuda menimpali melanjutkan pembicaraannya.

Pemuda pada intinya menginginkan agar mereka dilibatkan dalam setiap kegiatan pembangunan, dan diberikan kesempatan belajar serta berpartisipasi dalam membangun nagarinya. Satu lagi yang mengesankan, untuk urusan pengamanan nagari, para pemuda minta agar pihak nagari mengusulkan ke kecamatan agar mereka dilatih dasar-dasar kemiliteran dan kedisiplinan oleh Polisi Pamong Praja kecamatan. Tujuannya agar mereka tahu barang apa itu namanya kedisiplinan pribadi dan kedisiplinan kelompok. Juga agar mereka tahu serta mengerti prosedur pengamanan nagari yang berlaku sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Nagari. Impian.

Karena hari sudah malam dan larut, Ninik Mamak Kami hanya menyampaikan satu pesan, bahwa amanah yang diberikan kepada kita semua baik sebagai Wali Nagari, BPRN, MAMAS, MUNA dan masing-masing pribadi agar menjaga dan mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, menjaga adat istiadat minang supaya tidak luntur dan diperlukan satu wadah atau forum dimana secara rutin Wali Nagari sebagai yang di tuakan di pemerintahan, bersilahturahmi secara rutin dengan masyarakatnya untuk berdialog dan berdiskusi tentang semuanya menyangkut Nagari Impian ini. Satu lagi yang disampaikan Datuk kami, agar menjaga hubungan persaudaraan dengan nagari-nagari lainnya juga menghormati pemerintahan yang di atas nagari. Karena bagaimanapun Nagari Impian adalah bagian dari perwujudan kesejahteraan Kabupaten Agam keseluruhannya.

Dunia dalam berita terlihat di Televisi, Tengku Malinda pembawa acara senior di TVRI membacakan berita-berita seputar rencana-rencana Pembangunan Bangsa.Sejenak hening, namun, salah seorang Bundo Kanduang mengingatkan kalau hari sudah larut dan nanti ada kesempatan kita berdialog lagi seperti ini. Satu persatu kami bersalaman dan meninggalkan rumah kediamanku. Kini tinggal si Upik dan Istriku yang membersihkan piring serta gelas minuman tadi. Semua sudah kucatat pembicaraan tadi, dan besok aku berencana membuat surat ke BPRN agar diadakan secara resmi pembahasan mengenai berbagai masukan dan ide kreatif dari berbagai unsur masyarakat malam ini untuk di proses penyelenggaraannya.

Malamnya sebelum aku tidur, aku bersimpuh berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga aku tetap dijaga dan dibimbing dalam mengemban amanat masyarakat Nagari Impian dan kepada masyarakat Impian agar selalu dijaga kesatuan dan persatuannya dalam membangun Nagari, menuju Nagari Impian yang sejahtera, maju bersama menjalankan ibadah pengabdian membangun masyarakat dan Nagari Impian kedepan, semoga.***Penulis adalah Koordinator Sekretaris Pribadi Bupati/Wakil Bupati Agam dan Kasubag Protokol+++
Share This Post: