28 Februari 2017

-

Menghadiri Acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) KPN Pemkab Agam Tutup Buku Tahun 2016

-

Menghadiri Rapat TIM Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)

-

Pelantikan Camat Tilatang Kamang

» jadwal kegiatan lainnya

Selasa, 28 Februari 2017 / 1 Jumadil Akhir 1438 H
Karya Tulis Fiksi

Bagaimana Mungkin Itu Persahabatan

Rabu, 26/08/2015  09:53 WIB • SRI

Bagaimana dengan semua ini, apa dan harus bagaimana untuk semua ini Misa benar – benar tidak tau harus bagaimana untuk menyikapi ini semua. Persahabatan yang sudah kita jalani akan menjadi hal lain jika Misa meneruskan ini, Misa tidak ingin hal yang membuat semuanya menjadi berubah dan canggung untuk kita jalani. Niko sahabat yang baik untuk Misa namun Misa merasakan hal yang lebih dari yang dijalani selama ini. Misa berharap Niko memahami dengan apa yang Misa rasakan dan tidak menimbulkan jarak setelah Niko mengetahui ini semua.

Di Pengujung Malam

Jumat, 31/07/2015  15:49 WIB • R. Yulia

Hidung bengkok, bibir tipis segaris dan sepasang mata bersudut licik, berikut wajah bergelambir lemak dan taburan vlek coklat yang muram. Ah, pantaskah lelaki itu disebut tampan? Bibirku bergerak mencibir, simultan dengan kesimpulan di kepala.

Dalam Belai Semilir Angin

Jumat, 31/07/2015  15:47 WIB • R. Yulia

Malam begitu tua. Dan ringkih. Di halaman masih terdengar geraman dua ekor anjing yang saling berseteru. Entah memperebutkan apa. Mungkin betina atau sekerat daging sisa di onggokan sampah.

Anak Kosan Lantai 2

Kamis, 04/06/2015  10:50 WIB • Sri

Bercerita tentang empat gadis kosan lantai 2, empat karakter cewek yang rumit dan suka banget bikin kehebohan mendadak. Awal kenal sih masi suka jaim, mau ngomong duluan aja susah paling juga kalau tatap muka cuma senyum aja. Itu baru satu minggu tinggal  satu atap, yang pastinya hal itu nggak bertahan lama ya, maklum namanya juga baru ketemu liat situasi dan kondisi dulu.

SURAT IBU

Kamis, 04/06/2015  10:49 WIB • R. Yulia

Lelaki itu tiba tepat pukul empat lebih tiga belas menit. Ia terlambat dua menit dari sebelumnya. Lalu seperti biasa, duduk dengan kaki berjuntai di undakan depan beranda, termangu, menatap jauh.., jauh sekali. Ia menunggu. Menunggu senja beringsut dilumat masa yang mengantarkan malam dan rutukan burung hantu. Menunggu angin menjadi lebih dingin dan tajam menikam pori-pori. Menunggu seseorang.., atau sesuatu?