31 Agustus 2017

-

Temu Ramah dan Silaturrahmi dengan Perantau Palembayan ( Malaysia & Indonesia) dengan Tema “ Mampaharek Silaturahmi antaro rantau jo kampuang halaman”

-

Melepas Pawai Takbiran dalam Rangka Menyambut dan Memeriahkan Hari Raya Idul Adha 1438 H/2017 M

» jadwal kegiatan lainnya

Jum'at, 24 November 2017 / 5 Rabiul Awwal 1439 H
Karya Tulis Detil

 ARTIKEL

Oleh :  Ibrahim Azwar

Rabu, 18/10/2017  20:10 WIB

Menghibur

Menghibur, menurut Kamus besar bahasa Indonesia berarti menyenangkan dan menyejukkan hati yang susah.

Memang begitulah kalau menghibur. Menyenangkan orang yang sedang susah hati, menyenangkan jiwa orang yang sedang gundah.

Dan pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menyenangkan dan menyejukan hati itu atau sederhananya bagaimana cara untuk menghibur itu?

Jawabnya adalah tergantung.

 

Bisa dengan mengatakan sesuatu sehingga orang yang dihibur menjadi senang setelah mendengarnya, atau bisa dengan melakukan sebuah tindakan apapun bentuk tindakan tersebut sehingga setelah tindakan tersebut itu dilakukan, akan muncul hati yang tenang dari orang yang dihibur.

Lalu apa masalahnya?

 

Masalahnya adalah terkadang kita yang menghibur mengatakan ataupun melakukan sesuatu terlalu berfokus pada keadaan saat ini, tidak memikirkan atau mempertimbangkan dampak yang akan terjadi pada waktu mendatang. Kita beranggaan bahwa yang penting saat dihibur dia merasa senang, masalah setidaknya bisa dilupakan atau beban terasa sedikit banyaknya berkurang walaupun itu bukanlah hal yang sebenarnya.

 

Misalnya, seorang anak kecil sedang bermain-main, dia berlari-lari riang kesana kemari. Dia bermain dengan riang gembira. Saking gembiranya dia tidak tau apa-apa disekelilingnya. Tiba-tiba ketika berlari-lari kakinya tersandung batu lalu dia terjatuh dan kakinya berdarah. Karena itu dia menangis dan menyalahkan batu tersebut.

 

Dari banyak kejadian yang semisal dengan ini, saya sering melihat orang yang menghibur anak kecil yang mengalami hal serupa dengan ini kadang ikut-ikutan menyalahkan batu. Si orangg tua melihat anaknya menangis lalu menghampiri anaknya san kemudian bertanya, kenapa menangis? Si anak lalu menjawab batu itu jahat atau semisalnya. Lalu apa yang dilakukan oleh orang tua tersebut.

 

Agar sianak cepat berhenti menangis, si orangtua pun kemudian mengatakan.

Batu ini yang jahat? Ini Bapak buang batunya, sambil melempar batu tersebut.

Apa yang terjadi setelah itu?

Mungkin saja anak itu akan berhenti tangisannya, dan bisa kembali tertawa serta bermain gembira seperti semula. Tapi apakah kita sadar bahwa si orang tua itu sudah mengajarkan sesuatu yang salah kepada si anak kecil. Mengajarkan bahwa dia tidak salah dan tidak akan memperbaiki kesalahannya karena si anak kecil ini tidak tau kalau dia memang salah.

 

Mungkin itu tidak akan berpengaruh apa-apa jika hanya terjadi sekali, coba bayangkan jika hal semisal itu terjadi berulangkali. Dan hal itu tertanam dalam pikirannya. Apa dampak bagi anak tersebut dikemudian hari?

 

Tentu saja dia akan tumbuh sebagai anak yang egois, tidak hati-hati dan suka menyalahkan hal lain atau orang lain disekitarnya. Karena dia telah diajarkan bahwa apapun yang dilakukannya jika terjadi sesuatu orang lainlah yang bersalah.

 

Lalu bagaimana seandainya cara si orang tua tadi untuk menghibur anak kecil tersebut dengan mengatakan kenapa menangis? Lalu si anak menjawab, batu itu jahat, jawab si anak. Lalu si orang tua menjawab lagi kenapa batu yang jahat? Si anak mungkin akan sedikit bercerita tentang bagaimana dia jatuh. Lalu si orang tua bertanya, kenapa batu yang jahat? Sedangkan batu hanya disitu dari tadi. Setelah itu si orang tua bisa menasehati anak untuk berhati-hati, untuk bermain jangan sampai lupa pada lingkungan sekitar.

 

Dari cara yang kedua apa dampak kepada si anak kecil jika itu terjadi berulang-ulang? Dia akan tumbuh dengan sikap yang berhati-hati dalam bertindak, tidak mudah menyalahkan lingkungan disekitarnya dan tentu saja dia tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang egois. Karena dalam pikirinnya telah tertanam bahwa dilingkungannya bukan hanya ada dirinya saja tapi juga ada orang lain.

 

Menghibur bukan berarti mengatakan atau melakukan apa yang diminta atau diinginkan oleh orang yang akan dihibur agar tujuan dari menghibur itu terpenuhi. Menghibur adalah mengatakan atau melakukan yang seharusnya sehingga orang yang dihibur bisa merasa tenang. Tenang karena dia tau akan kesalahannya dan setelah tau akan kesalahannya dia akan tau bagaimana dia akan bersikap selanjutnya. Tenang karena dengan begitu dia akan bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Setelah bisa berdamai dengan diri sendiri dia akan tau pula bagaimana akan bersikap.

 

Banyak yang salah menganggap bahwa menghibur itu yang penting orang yang dihibur merasa senang, merasa bahagia atau merasa lebih baik. Untuk itu kadang kita sering hanya berkata yang diinginkan oleh dia saja atau bertindak sesuai dengan apa kemauan dia saja dan tidak jarang dalam proses menghibur itu kita berkata yang tidak sebenarnya, yang berdampak tidak baik di waktu yang akan datang.

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :