17 Desember 2017

-

Menghadiri Tablig Akbar dan Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Tahun 1439 H dengan Pembicara Buya Drs. H. Abubakar Syarif. M, Hi (Pensiunan Hakim Tinggi Agam Jakarta)

-

Malewakan Gala Sako Pasukuan Koto Payuang Panji Dt. Sati, Nagari Balingka Kecamatan IV Koto

» jadwal kegiatan lainnya

Minggu, 17 Desember 2017 / 28 Rabiul Awwal 1439 H
Karya Tulis Detil

 FIKSI

Oleh :  Depi Marlina

Selasa, 16/05/2017  11:29 WIB

Adek

Suara lengkingan jangkrik terdengar begitu keras dari samping rumahku, yaahh.. rumahku memang dekat dengan kebun, disini suasananya begitu sepi dan sunyi. Tidak banyak orang yang sering berkunjung kelokasiku, mungkin karena letak lokasinya yang jauh dari keramaian. Aku harus tetap bersyukur meskipun rumahku tidak mewah setidaknya aku memiliki tempat berteduh. Apa lagi aku memiliki kebun sayur yang bisa dibilang lumayan membantu perekonomian kami, terasa sangat membantu ketika harga sembako mulai melejut. Aku tinggal berdua dengan adikku, ayah dan ibuku telah lama pergi keluar kota dan tidak pernah lagi terdengar kabar dari mereka setelahnya. Mungkin mereka telah melupakan aku dan adikku,entah apalah itu aku juga sudah tidak mau tau, karena sekarang aku lah berjuang dan bekerja keras untuk menghidupi adikku yang masih berumur 5 tahun.Entah apa yang sedang terjadi, akhir-akhir ini adikku sering bertingkah laku aneh dan tidak masuk akal, bagaimana bisa dia bicara sendiri sedangkan tidak ada seorang didekatnya. Dia sering berbicara seakan-akan dia sedang berbicara dengan lawan bicaranya. Aku tidak bisa mengatakan adikku tidak waras, sebab faktanya adikku masih nyambung ketika aku ajak bicara. Siang itu aku pergi ke kebun sawi yang hanya berjarak 100 meter dari rumahku, aku turut serta ingin membawa adikku agar aku bisa mengawasinya. “bang, adek tinggal di rumah aja yaaa…” pinta adikku sambil menarik-narik baju yang menempel ditubuhku.

“lhoo… kok gitu sayang? kalo adek tinggal tinggal di rumah gimana abang bisa jagain adek? Siapa kawan adek di rumah? Rumah kita kan jauh dari keramaian?”

“gakpapa kok bang… adek punya teman kok disini..”

“siapa teman adek?”

“ada deeehh…”

“adek gak punya teman disini, lebih baik ikut abang ke ladang. Nanti kalo kita sampai di ladang kan adek bisa duduk-duduk sambil liatin abang kerja?”

“enggak… adek mau di rumah aja”

“jangan gitu dek, nanti kalo ada tukang culik anak yang tiba-tiba datang gimana? Abang kan gak di rumah, adek mau minta tolong sama siapa coba? Yuk…. ikut abang aja”

Akhirnya adikku mau pergi bersamaku.

“bang tunggu sebentar ya..” adikku berjalan ke arah pintu belakang. Diam-diam aku menguntitnya, dari kejauhan aku melihat adikku seperti sedang berbicara dengan seseorang, tapi aku tidak mengerti mengapa adikku melakukan hal tersebut. Ah..tapi ya sudahlah namanya juga anak-anak yang masih kecil. Aku tidak hiraukan itu, kami langsung berangkat ke kebun sawi milikku. Disana aku membersihkan kebun dengan mencabuti rerumputan yang sudah mulai tumbuh liar pada sisi-sisi petakan sayur. Adikku ikut membantu, pekerjaan kami pun selesai dengan waktu yang cepat.Hari sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, aku dan adikku pulang dan membersihkan badan yang sudah dipenuhi keringat sebesar biji jagung. Malam harinya saat waktu telah menunjukkan pukul 10 malam aku menyuruh adikku tidur, ku tutup pintu kamarnya dan baru tiga langkah aku meninggalkan kamarnya, aku mendengar seperti ada suara orang yang sedang melakukan pembicaraan. Perlahan-lahan ku balikkan badan menuju kamar adikku, tapi suara itu menghilang dan dalam sekejap suasana menjadi senyap. Sudahlah… aku menjadi makin bingung, esok harinya aku kembali mendengar suara tersebut tapi pada saat aku akan mengecek suara itu kembali menghilang, tapi yang pasti suara itu setiap malam aku dengar memang berasal dari dalam kamar adikku. Hari berikutnya aku telah mengatur siasat untuk mengetahui siapa sebenarnya yang selalu berbicara setiap malam didalam kamar adikku. Malam ini suasana begitu senyap, ditambah lagi hujan lebat dan angin membuat suasana semakin mencekam. Begitu adikku masuk kamar dengan sigap aku menutup pintu kamarnya dan berdiri di samping pintu. Belum terdengar suara apapun, ku tunggu hingga setengah jam lamanya, namun suara itu tetap tak kunjung ada. Aku lelah menunggu yang tidak membuahkan hasil, tapi aku akan mencoba sabar hingga akhirnya telah 1 jam lamanya aku berdiri di samping pintu kamar adikku ini. Dan akhirnya aku pun mendengar suara itu, aku sedikit membungkukkan badanku dan meluruskan pandangan pada lubang pintu. Kali ini aku dapat mendengar suara itu, tapi suara itu terdengar begitu sayup. Ku lihatternyata adikku yang sedang duduk sambil memainkan boneka beruang miliknya. Adikku tertawa dan berbicara sendiri “lhooo… kok adik gue bicara sendirian yaa.. aneh” rasanya aku sudah tidak sabaran lagi, aku langsungmembuka pintu kamarnyasecepat kilat. “ade.. kenapa adek belum tidur? Abang udah suruh adek buat tidur, kenapa adek masih main boneka?”

“ia... adek lagi main boneka sama kawan adek”

“siapa kawan adek, bilang sama abang.. kenalkan sama abang”

“kawan adek namanya Lory..”

“Lory siapa, abang gak liat dia disini. Dia perempuan atau laki-laki..?”

“laki-laki… dia seumuran adek kok”

“jadi sekarang dimana Lory, suruh dia keluar, apa dia bersembunyi..?”

“abang membuat Lory takut… Lory takut orang yang galak”

“kamu semakin aneh saja, sudahlah dek… tidurlah!”

“ia bang… tapi besok Lory boleh main sama adek lagi kan bang?”

“ya boleh” jawabku dengan nada lembut.

Aku memang sengaja membiarkan adikku bermain dengan teman khayalannya tersebut karena aku telah memikirkan sesuatu yang menurutku baik untuk aku dan adikku. Esok harinya sekitar pukul 3 sore aku dan adikku pergi ke rumah salah satu ustad yang tinggal tidak jauh dari desaku. Sesampai dirumah ustad tersebut aku menceritakan semua kejadian secara rinci, ustad tersebut juga menanyai adikku perihal teman misteriusnya tersebut. “kalau kakek boleh tau nama teman cucu itu siapa ya?”

“Lory” jawab adikku dengan nada manja.

“lalu.. Lory itu biasanya ngapain aja sama kamu cu..?”

“cuma main aja kok, Lory gak mau main sama orang lain. Lory gak suka orang yang kasar, kata Lory ayahnya kasar sama dia… ayahnya membuang dia”

“kalau cucu tidak keberatan.. boleh kasi tau kakek Lory itu orangnya seperti apa?”

“Lory punya taring, badannya berbulu..  badannya berbau amis, tapi Lory gak ganggu kok. Walaupun Lory bau tapi dia gak pernah kasar, kami selalu main bareng tiap malam”

“itu dia memang namanya Lory atau gimana cu..?”

“adek sendiri kok yang manggil dia Lory, abisnya dia gak pernah mau ngomong sih”

“hhmmm… baiklah”

Setelah lama berbicara dengan adikku ustad itu pun menarik kesimpulan bahwa teman adikku tersebut bukanlah manusia, melainkan sosok tak kasat mata. Bulu kudukku seketika merinding mendengar pernyataan tersebut. Bagaimana bisa adikku berteman dengan makhluk gaib? Ya ampun… aku tak habis pikir kenapa bisa begitu.  “Lalu bagaimana caranya agar adik saya tidak berteman lagi dengan makhluk tersebut pak?”

“besok malam saya akan pergi kerumah anda.. tapi ingat, jangan beritahu adik anda. Usahakan agar dia tetap berbicara dengan temannya itu“ bisik ustad tersebut.

Keesokan harinya saat matahari mulai akan muncul dari ufuk timur aku segera bangun dari tempat tidur dan menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Tidak lupa aku memasak sedikit cemilan untuk menyambut kedatangan ustad tersebut. Saat yang ditunggu-tunggu pun datang, setelah sholat isya’ terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Kubuka pintu rumahku dan ternyata ustad tersebut telah berdiri di depanku sambil tersenyum lebar “assalamu’alaikum nak… gimana kabarnya hari ini..?”

“waalaikumsalam pak, sehat… mari masuuukk”

“terimakasih…”

“silahkan duduk pak”

Saat jam telah menunjukkan puku 10 malam, ustad tersebut meminta izin untuk masuk melihat kamar adikku, didalam kamar adikku sedang tertidur pulas. Dengan bekal air satu botol ustad tersebut membacakan sesuatu sebelum menyiramkan ait tersebut ke sekeliling kamar adikku. Setelah itu beliau membacakan doa sambil memegang tasbihnya yang berwarna coklat. tak lama setelah itu ustad tersebut menyampaikan kepadaku bahwa beliau telah menyuruh makhluk tersebut untuk pindah kesuatu tempat.Makhluk tersebut setuju dengan perintahnya namun menginginkan satu syarat, syaratnya yaitu dengan menyembelih satu ekor ayam serba hitam. Akhirnya akupun menyanggupinya agar ia segera berpindah dan tidak mengganggu ketengangan kami lagi. Beberapa hari setelah itu, tidak pernah lagi ku dengar adikku bertingkah aneh maupun berbicara sendiri. Namun aku tidak tahu pasti apakah makhluk tak kasat mata itu benar-benar memenuhi janjinya atau tidak, yang terpenting untuk saat ini kami aman dari gangguannya.

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :