24 Mei 2017

-

Upacara Peringatan HUT Malalak ke 10 Tahun 2017

-

Rapat Umum Luar Biasa (RUPS ) Tahun Buku 2016

-

Menghadiri Acara Peluncuran dan Diskusi Buku In Memoriam 100 Seniman, Wartawan dan Budayawan Sumatera Barat Karya Nazif Basir

» jadwal kegiatan lainnya

Minggu, 25 Juni 2017 / 30 Ramadhan 1438 H
Karya Tulis Detil

 ARTIKEL

Oleh :  YENI MARLINA

Jumat, 16/06/2017  14:19 WIB

TIGA TINGKATAN SABAR (TTS)

“Sabar ya…”
Tak banyak kata yang mampu mengiringi kalimat yang satu ini, betul? Namun, satu pelukan hangat akan membuktikan kasih sayang sesama manusia.

“Sabar dong…”
Kalo yang ini mah kadang bikin kita lebih tidak sabar lagi, betul apa betul? Tapi,  tidak bagi yang nyadar… ups.. maksudnya bagi yang berjiwa besar.

“Sabar bro…”
Naah, yang ini super, guys.. Karena, biasanya mampu meredam gejolak jiwa yang sedang menyala, betul betul betul? Apalagi ditambah dengan satu tepukan di bahu, penuh persahabatan. Mantaps..  

Namun, kalimat-kalimat tersebut terkadang sudah tidak berasa lagi maknanya. Kebanyakan kita lebih cenderung memperturutkan rasa yang sedang bergejolak, karena kita merasa bahwa kita yang lebih tahu tentang diri kita sendiri. Saking egonya, terkadang keluarlah kalimat “kamu gak ngerasain sih”, “aku yang tau”.
But, itu fitrah ma bro. Tiga kekuatan besar dalam diri kita sedang bertarung, yaitu akal, hati dan nafsu. Kekuatan akal lahir dari kuantitas usaha untuk mendapatkan ilmu berupa hidayah dari Allaah SWT. Kejernihan hati terpancar dari kualitas do’a untuk mendapatkan taufik atau kekuatan dalam melaksanakan hidayah yang telah diperoleh. Sedangkan kehebatan nafsu adalah sifat dasar manusia sebagai ujian terbesar dalam hidupnya. So, pemenangnya adalah yang paling “sehat” di antara mereka dalam diri anda. Contohnya saja ketika dapat musibah,
Akal bilang, “Tersenyumlah, Allaah sedang memperhatikanmu.”
Hati berkata, “Sedih… kenapa begini????”
Nafsu berteriak, “Tuhan tidak adil.”


Nah, orang yang beruntung adalah yang memenangkan akalnya untuk bersabar, sehingga ia dapat mengambil hikmah yang akan mengantarkannya pada kesudahan yang baik.
“…Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan[771], dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum"[772]. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. “ (QS.Ar Ra’ad : 19 – 24).

Sabar merupakan sifat yang wajib diutamakan bagi seorang muslim, karena ia merupakan sebuah perintah dari Alaah SWT telah memerintahkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 153 :
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 153)

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw juga mengatakan bahwa iman yang paling sempurna adalah sabar, selain sifat malu. (HR. Ibnu Majah dan Ath Thabrani).

Sabar itu…, menahan.
Menahan sedih,
menahan marah, dan
menahan diri untuk tetap tersenyum.
    
Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/156) berkata : “Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allaah, sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allaah, dan sabar dalam menghadapi ujian.”
1.    Sabar dalam keta’atan kepada Allaah SWT
Ini adalah sabar tingkat tinggi, karena jiwa manusia bertabi’at bosan. Selalu ingin melakukan perubahan dan pembaharuan, namun sering lupa membekali diri dengan ilmu tentang langkah perubahan yang akan dilakukannya. Sedangkan, setiap amal akan dibalasi dan dimintai pertanggungjawaban. So, meminta agar Allaah SWT mengokohkan hati dan membimbing langkah untuk senantiasa dalam keridhoan-Nya adalah pilihan terbaik. Dan, menyadari serta merenungi tujuan penciptaan kita sebagai makhluk sesering mungkin akan sangat membantu untuk tetap komitmen dalam kebaikan-kebaikan sebagai bentuk keta’atan kepada Allaah SWT.   
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat : 56)


2.    Sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allaah
Ini adalah sabar yang cukup sulit, karena pada dasarnya jiwa manusia cenderung menyuruh pada keburukan. Hal ini merupakan bentuk peran nafsu yang memang diilhamkan oleh Allaah SWT sebagai ujian bagi manusia. Dalam Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 72, Allaah SWT menggambarkan sifat manusia sebagai berikut :
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.
Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan menambah kapasitas ilmu tentang tuntunan dan batasan-batasan hidup sebagai seorang muslim. Di samping itu, taubat dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allaah SWT akan membuka pintu rahmat dan kasih sayang-Nya.  


3.    Sabar  dalam menghadapi ujian
Nah, sesungguhnya ini adalah bentuk sabar yang paling sederhana. Sebagai seorang hamba, sungguh tidak layak bagi kita untuk membantah atau menyesali ketentuan Allaah SWT, right? Baik ataupun buruk menurut kita belum tentu sama dengan maksud dan kehendak-Nya. Seperti yang terdapat dalam ayat cinta yang satu ini,
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)
Sebagai seorang yang beriman, kita mesti yakin bahwa Allaah Yang Maha Mengetahui. So, seorang muslim yang saleh akan menghindari keluh kesah, sesal ataupun kecewa pada saat Allaah SWT mengujinya dengan kesedihan, dan menghindari sifat egois dan sombong apalagi menghina ketika diberikan kesenangan, setuju?

The end, sabar itu memang berat.
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah : 45-46)

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :