21 Agustus 2017

-

Melepas Pawai Alegoris

-

Rapat Paripurna Jawaban Bupati atas Pandangan Umum Fraksi tentang Ranperda tentang Perubahan Perda No.2 Tahun 2012 tentang Perubahan Retribusi Jasa Umum

» jadwal kegiatan lainnya

Senin, 21 Agustus 2017 / 28 Zulqaidah 1438 H
Karya Tulis Detil

 FIKSI

Oleh :  Depi Marlina

Senin, 10/04/2017  08:57 WIB

KU NANTI KAU DI DERMAGA

 

Hari ini cuaca di langit cukup cerah, awannya juga tampak begitu indah dengan gumpalan yang sedikit berwarna kebiru-biruan, ku pandangi langit sambil menikmati udara sejuk pagi hari. Rasanya begitu indah alam yang telahtuhan ciptakan, bentang alam yang luas serta gunung-gunung yang menjulang tinggi berdiri dengan kokohnya.Sampai diriku sendiri terkagum-kagum melihat dunia yang begitu indah ini.

 

Dari kejauhan terlihat seorang pemuda dengan pakaiannya yang jelek berjalan menuju tempat aku berdiri. Pemuda itu memandangiku sambil tersenyum lebar. Yaa…dialah Riski satu-satunya kekasih yang sangat aku cintai. Dengan kondisi wajahnya yang tampan rasanya dia tidak cocok memakai pakaian yang seperti itu, tapi mau bagaimana lagi hendak dikata? Kondisi ekonomi yang susahlah yang membuatnya seperti itu. sama seperti diriku yang juga bukanlah dari kalangan atas.

 

Kekasihku hanyalah seorang pemuda miskin yang kesehariannya biasa bekerja ke sawah sebagai petani padi. Meskipun dia miskin harta, akan tetapi dia kaya hati dan perasaan. Dia memiliki budi luhur yang baik, senang bergaul dan selalu membantu ayah ibunya yang sudah mulai renta.Dia menghampiriku sembari menodongkan ketanganku sebungkus coklat batang “apa ini… kenapa kau berikan aku coklat..?”

 

“terima saja, hanya itu yang dapat aku berikan untukmu”

 

Ku ambil coklat itu dari tangannya dengan senang hati “waahh… terimakasih. Aku senang kau berikan sebungkus coklat. Aku terima pemberianmu ini…”

 

“aku pun senang bisa memberikanmu sesuatu, meskipun hanya sebungkus coklat saja, karna selama ini aku tidak pernah memberikanmu apa-apa, dan mungkin juga ini adalah pemberian pertama dan terakirku untukmu”

 

Wajah senangku seketika berubah menjadi sendu, tubuh ini menjadi lemas saat kata-kata itu terucap dari bibirnya “maksud kau berkata demikian apa, apakah maksudmu itu jika kau ingin mengakiri hubungan yang sudah lama kita jalani ini, apa kau sudah tidak bahagia dengan diriku? Apakah kau telah tergoda dengan wanita lain..?” tanyaku dengan penuh kecurigaan.

 

“tidak… aku tidak bermaksud ingin memutuskan hubungan denganmu, aku berkata demikian dikarenakan aku akan pergi jauh meninggalkanmu, tapi hanya untuk sementara waktu saja sampai aku telah sukses”

 

“jadi kau akan pergi dan membiarkan aku kesepian tanpa kehadiran dirimu?”

 

“ia… aku pergi untuk mencari untung dan ingin mengadu nasib di negeri orang. Semoga aku berhasil menjadi orang yang sukses dan segera datang untuk melamarmu. Tolong, izinkanlah aku pergi merantau Riska? Agar aku bisa membahagiakanmu kelak, demi masa depan kita juga?”

 

Aku benar-benar tidak menyangka jika kekasihku tersebut punya fikiran ingin pergi merantau, apa lagi merantau itu bukanlah waktu yang sebentar untuk merubah nasib seseorang.

 

“jadi.. maksudnya kita akan berpisah dan tidak akan berjumpa lagi, apa kau tega meninggalkan aku sendiri di desa ini..? Ohh…. rasanya aku tidak akan sanggup jika harus melepas kau pergi ke negeri orang”

 

Kekasihku itu berusaha membujukku terus menerus, hingga akhirnya aku pun dengan terpaksa harus melepaskan dia pergi bersama keinginan dan ambisinya tersebut.Esok harinya, pagi-pagi sekali aku telah menyelesaikan pekerjaan rumah dan segera berangkat menuju dermaga tempat dimana kapal akan membawa jauh kekasihku. Sewaktu dia melihat kedatanganku, ia terus saja tersenyum seolah-olah memberikan isyarat betapa sangat bahagianya ia melihat kehadiran diriku, kami saling menatap wajah masing-masing. Kami saling berpegangan tangan, kami berjanji untuk saling setia dan saling menjaga satu sama lain. Ku genggam erat tangannya lalu ku rangkul tubuh kekasihku itu dengan pelukan yang hangat,“hari ini aku akan pergi jauh.. jaga diri kamu baik-baik ya? Jangan lupa untuk selalu berdoa pada Yang Maha Kuasa agar kita diberi kemudahan untuk melangkah ke yang lebih baik. Aku berjanji akan mengirim kabar untuk kekasihku tercinta ini”

 

Dia mencoba untuk menenangkan aku dengan kata-katanya tersebut tapi air mata ini tidak sanggup rasanya menahan haru dan pilu, tak mampu lagi ku bendung genangannya. Dengan diiringi oleh isak tangis akhirnya ku lepaskan dia pergi berlayar.

 

“aku akan menunggumu di dermaga ini lagi Riski.. ingat yaaaa” teriakku sekencang-kencangnya. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Setelah kapal yang ditumpanginya lenyap dari pandanganku, aku pun termenung cukup lama di dermaga ini. Rasanya baru saja tadi disini dia berdiri tegak bersamaku dan sekarang dia telah lenyap dari pandangan. Siapakah wanita yang tidak sedih jika kekasih hatinya pergi jauh? Tapi ada suatu hal yang membuatku berusaha tegar dan tabah menerima kepergiannya ke rantau orang yaitu janji untuk tetap bersamaku dan janji untuk memperistriku.Dengan langkah kaki gontai dan tubuh yang lemas aku kembali ke rumah.“dari mana nak, kenapa lemas begitu sayang?” tanya ibuku.

 

“tidak mengapa bu, Riska cuma merasa tidak enak badan hari ini”

 

“Riska sakit ya? Kalau begitu Riska istirahat saja dulu dikamar” perintah ibuku.

 

Ku baringkan tubuhku ke atas kasur yang kapasnya sedikit keluar karena robek. Hidupku memang tidaklah berasal dari kalangan atas, karena itu juga lah aku dan Riski saling jatuh cinta. Kami memiliki kesamaan nasib, lebih tepatnya nasib yang tidak beruntung.Sebenarnya ada seorang laki-laki mapan yang suka akan diriku, akan tetapi aku tidak bisa menerima dia. Sebab aku telah memiliki kekasih, disamping itu aku juga tidak mau jika nanti keluarganya meremehkan aku yang hanya berasal dari kalangan bawah. Keberadaan laki-laki itu tidak aku beritahukan pada Riski karna aku tau pasti jika dia tau, dia tidak akan senang dan pasti dia juga akan merasa cemburu terhadap lelaki yang lebih mapan darinya tersebut.

Bagiku meski Riski tidak kaya harta, cukuplah bagiku dia kaya akan cinta dan kesetiaan. Uang dan harta bisa dicari namun cinta dan kesetiaan tidak bisa dibeli dengan uang tersebut. Satu minggu telah berlalu aku terus mendoakan dia semoga selalu dalam lindungannya. Aku terus kefikiran apa yang sedang ia perbuat disana hingga aku demam selama satu hari.Aku bergumam di dalam hati “kenapa dia tidak mengirim surat padaku? Apakah dia baik-baik saja, apa dia sudah dapat pekerjaan disana. Apakah dia bahagia disana atau tidak? Oh tuhan… semoga engkau selalu memberinya ketegaran dalam segala rintangan yang tengah dihadapinya”. Aku mencoba mencari kesibukan dengan pergi mencari kerang di tepi laut untuk menghilangkan kejenuhan dan kesedihan. Kerang yang ku dapatkan, aku jualkan pada orang-orang kampung. Rasanya dengan menjual kerang mentah saja aku masih kekurangan aktivitas.

Akhirnya aku berinisiatif untuk mengolah kerang tersebut menjadi sate kerang yang lezat. Dengan keahlian tanganku dalam mengolah masakan akupun berhasil membuat sate kerang. Aku menjualkannya pada warga kampung sekitar, banyak yang mengatakan cita rasa kerang yang aku jajalkan sangatlah empuk dan enak meskipun dengan bumbu seadanya.Aku semakin bersemangat dengan pekerjaan dan aktifitas baruku, akan tetapi meskipun begitu aku tidak pernah sedikitpun melupakan kekasihku yang sedang mengadu nasib. Setiap kepingan dan lembaran uang yang aku peroleh aku tersenyum ikhlas menerimanya. Saat uang itu berada ditanganku, aku terbayang padanya dan aku berharap semoga dia juga sedang menerima hal yang sama, agar kami dapat segera berjumpa kembali. Satu bulan pun berlalu akan tetapi masih tiada kabar yang aku terima. Jangankan kabar yang ku terima, sepucuk surat pun tak sampai.

Sebenarnya jauh didalam lubuk hati aku merasa kecewa terhadapnya. Janji yang ia katakan tidak terbukti, kenyataannya aku sama sekali tidak mendapat kabar apa pun tentangnya.  Rasanya ingin menangis, tetapi apalah dayaku sekarang ini? Aku hanya bisa tabah dan pasrah akan nasib. Mungkin inilah yang dinamakan ujian percintaan, sekarang ini kesetiaan dan kepercayaan sedang aku pertaruhkan untuk dirinya. Entah kapan dia akan mengirimi aku surat dan kabar, entahlah aku pun tak tahu kapan. Tapi yang pasti aku akan mencoba untuk selalu bersabar. Sabar sama seperti saat aku kehilangan sosok ayahanda yang aku cinta beberapa tahun yang lalu. Hanya perbedaannya kekasihku pergi jauh hanya untuk sementara waktu sedang ayahku telah pergi jauh meninggalkanku untuk selama-lamanya.

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :