31 Agustus 2017

-

Temu Ramah dan Silaturrahmi dengan Perantau Palembayan ( Malaysia & Indonesia) dengan Tema “ Mampaharek Silaturahmi antaro rantau jo kampuang halaman”

-

Melepas Pawai Takbiran dalam Rangka Menyambut dan Memeriahkan Hari Raya Idul Adha 1438 H/2017 M

» jadwal kegiatan lainnya

Minggu, 24 September 2017 / 3 Muharram 1439 H
Karya Tulis Detil

 ARTIKEL

Oleh :  Ibrahim

Senin, 06/02/2017  14:17 WIB

DIDIK

Beberapa waktu lalu saya banyak liat postingan teman-teman di media sosial mengenai kebijakan Menteri Pendidikan untuk menjadikan sekolah penuh 1 hari. saya hanya melihat judul saja sih gak dibaca juga apa isi dari tautan yang di bagikan teman-teman. tapi mayoritas teman-teman tidak suka dengan kebijakan tersebut. bahkan sudah banyak karya kreatif dalam bentuk meme tersebar didunia maya. Mulai banyak yg membandingkan Indonesia dengan Finlandia atau Jepang dimana di negara tersebut sekolah hanya 5-6 jam per hari, lalu tidak ada PR, tidak ada UN dan lain sebagainya namun mereka unggul di bidang Sumber Daya Manusia (SDM).

 

lalu sesudahnya muncul pula berita yang mengabarkan bahwa ada pemukulan guru di Makasar, dan ini bukan berita pertama dimana guru menjadi pihak yang teraniaya. sebelumnya ada guru yang dipidanakan karena mencubit seorang siswa dan ada beberapa berita lainya.

 

melihat hal itu semua, saya jadi agak tergelitik untuk sedikit menulis menyoal pendidikan. Saya memang bukan seorang guru atau pakar dibidang pendidikan, namun saya hanya ingin menuliskan apa yg ada dalam kepala saya saat ini. mohon untuk dikoreksi bila ada yang salah nantinya.

 

saya mulai terlebih dahulu dari definisi pendidikan.

 

kata dasar pendidikan adalah didik, didik menurut Kamus Besar Bahas Indonesia berarti "memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran" sedangkan pendidikan "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan"

 

Dari definisi diatas kita mendapatkan kata latihan, proses, sikap, tata laku, dewasa dan pengajaran.

 

dari kata-kata diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pendidikan adalah sebuah "proses" untuk mendewasakan manusia.

 

Bagaimana manusia yang dewasa tersebut? Seorang manusia dapat dikatakan dewasa biasanya kita lihat dari cara seseorang bersikap, cara seseorang berkata-kata dan bertingkahlaku. Seorang manusia dewasa perbuatannya tidak seenaknya sendiri perkataannya bijak, dan begitupun tingkahlakunya. Sering kita mendengar bahwa dewasa tidak berhubungan dengan usia. Semakin tua usia seseorang tidak menjamin dia bertambah dewasa.

 

 Bagaimana cara untuk mendewasakan manusia tersebut? Disanalah letak fungsi dari pengajaran dan pelatihan. Berkenaan dengan pengajaran dan pelatihan, pendidikan tidak hanya tentang transfrer knowledge (pengetahuan) tapi juga tentang transfer value (nilai-nilai). Pengajaran dalam proses pendidikan berfungsi sebagai transfrer knowledge dan pelatihan berfungsi sebagai  transfer value.

 

Proses itu adalah runtunan perubahan, step demi step perubahan. jadi pendidikan bukanlah suatu hal yg hasilnya bisa instan, bukan hal yang hasilnya langsung dapat dirasakan. Dalam sebuah proses ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, ada cara-cara yang terencana, terkonsep dengan jelas. Sehingga hasil dari proses tersebut tidak keluar dari tujuan. Jika nantinya ada hasil yang diluar perencanaan itu akan menjaddi catatan, barangkali ada yang salah dalam proses tersebut.

 

Dalam hal ini (proses), sangat berkaitan dengan waktu (masa) dan jika berhubungan dengan waktu tentu saja kita harus bersabar untuk mendapatkan hasilnya dan fase-fase yang harus dilewati harus dilewati satu per satu dan jangan berfikir akan ada jalan pintas untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang seharusnya.

 

Dalam proses pengajaran perlu bertahap dalam penyampaiannya, seorang pengajar tidak bisa langsung memberikan semua materi langsung secara keselururan. Tentu penyampaian materi haruslah secara bertahap, bab demi bab, karena dengan cara seperti itulah sebuah materi dapat dipahami dengan baik oleh peserta didik.

 

Begitupun dengan latihan, tentu saja apa yang diharapkan dari sebuah latihan akan langsung terlihat. Latihan berfokus kepada bagaimana peserta didik bisa terlatih, terbiasa dengan hal-hal yang menjadi pokok latihan. Sehingga bisa dengan mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Berkenaan dengan latihan, seorang atlet sepakbola anggaplah Cristiano Ronaldo, tentulah dia memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk bisa menjadi seorang atlet sepakbola dengan penghargaan pemain terbaik dunia. Tentu dia melakukan latihan secara sistemik dan melatih segala aspek yang diperlukan untuk menjadi seorang atlet sepak bola.

 

Berdasarkan hal diatas, tentu saja seorang peserta didik dalam proses pendidikannya harus melakukan latihan-latihan, pembiasaan-pembiasaan dalam proses pendidikannya. Dan sesuatu hal untuk bisa jadi terlatih dan terbiasa memerlukan waktu yang tidak singkat dan juga butuh ketekunan dalam melakukannya.

 

 

 

Pendidikan  sejatinya adalah pembentukan karakter, pembentukan mental, pembentukan watak objek didik.  Seorang kepala sekolah di negeri seberang sana dalam pembentukan karakter siswa-siswinya mengajarkan kepada siswa-siswa nya untuk tertib dengan cara antri. Antri dalam sebuah kegiatan. Disana para siswa dan siswi belajar untuk tertib dan teratur dan hal banyak hal lain yang jadi transfer value disana seperti menghargai orang lain, kesabaran dan lain sebagainya.

 

Jadi pegajaran dan pelatihan adalah cara yang tidak akan langsung terlihat hasilnya, butuh kesabaran dan ketekunan baik dari pihak pendidiknya maupun dari pihak peserta didik.

 

Merujuk kepada beberapa kasus antara guru dan murid diawal tulisan ini, kejadian-kejadian tersebut bukanlah sebuah hal yang kita semua inginkan, bukanlah suatu kejadian yang kita harapkan. Pertanyaannya kenapa hal – hal itu bisa terjadi? Dalam sebuah proses yang hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tentunya ada komponen-komponen dalam proses tersebut yang tidak sesuai, ada komponen-komponen yang tidak terprediksi keberadaannya sehingga mengganggu kerja dari proses tersebut dan berakibat kepada hasil yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Telah disebutkan sebelumnya bahwa komponen dalam proses pendidikan adalah pengajaran dan pelatihan. Secara teori jika dua hal ini bisa berjalan dengan baik maka akan mendapatkan hasil yang baik pula. Sehingga kita berkesimpulan bahwa jika yang menjadi outputnya ada adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka tentulah ada yang tidak sesuai yang terjadi pada pengajaran dan pelatihan.

 

Apa yang tidak sesuai dengan proses pendidikan, tentulah para pendidiklah yang lebih tau. Pendidikan tidak hanya di sekolah, pendidikan juga berlangsung disemua tempat seseorang berada, disemua lingkungan seseorang berada.

 

Seorang anak mungkin adalah pendengar yang buruk, namun dia adalah peniru yang ulung. Seorang anak akan sangat sering untuk tidak mendengarkan apa yang orang tua/ guru (lingkungan) nya katakan, namun seorang anak akan sangat mudah meniru apa yang terjadi disekitarnya, apalagi jika hal tersebut dia saksikan secara berulang-ulang.

 

Mari kita sebagai subjek didik (orang tua, guru dan lingkungan) untuk instrospeksi diri, barangkali ada yang salah dengan cara kita mendidik, ada yang salah dengan diri kita yang ditiru oleh anak. Baik itu sikap kita, kata-kata kita maupun prilaku kita sebagai contoh bagi anak.

 

Marilah kita posisikan diri kita pada posisi masing-masing, guru posisikan diri sebagai guru, orang tua posisikan diri sebagai orang tua. Lalu selanjutnya kita pun saling mengingatkan sebagai subjek didik, barang kali ada yang terletak tidak pada  tempatnya, barangkali ada yang tidak sesuai peruntukannya.

 

Pendidikan pada prosesnya akan bisa menghasilkan hasil yang sesuai hanya jika pada semua elemen pendidik saling besinergi dalam proses pendidikan. Pendidikan tidak bisa hanya diserahkan kepada guru saja atau orang tua saja. Kedua subjek pendidikan ini adalah yang paling dekat dengan objek didik. Sehingga kedua subjek ini lah yang paling bisa menulis pada kertas putih tersebut.

 

Kita sepakat bahwa anak seperti kertas putih yang kosong, kertas yang bisa ditulis apa saja, kertas yang bisa dijadikan apa saja.

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :