24 Mei 2017

-

Upacara Peringatan HUT Malalak ke 10 Tahun 2017

-

Rapat Umum Luar Biasa (RUPS ) Tahun Buku 2016

-

Menghadiri Acara Peluncuran dan Diskusi Buku In Memoriam 100 Seniman, Wartawan dan Budayawan Sumatera Barat Karya Nazif Basir

» jadwal kegiatan lainnya

Kamis, 29 Juni 2017 / 4 Syawwal 1438 H
Karya Tulis Detil

 FIKSI

Oleh :  Wahyu

Senin, 21/11/2016  16:51 WIB

LEAK

Dari luar jendela kaca terlihat seseorang sedang berdiri mengamati, entah apa yang ingin dilakukannya di rumah itu, aku melihatnya seperti hendak melakukan sesuatu. Dengan sigap aku segera menghampiri wanita tua tersebut "mbok, sedang apa disini, malam begini kenapa berdiri di depan kaca rumah orang? Ini sudah pukul 8.30 malam lhoo mbook” kataku dengan nada tegas. "Anu nak… saya tadi kehujanan sehabis pulang dari sungai, jadi saya berdiri disini untuk berteduh sebentar”
"oohhh… maaf kalau begitu mbok, saya tidak tau karena saya hanya bertugas mengamankan desa”
"ya nak, tidak mengapa”
"rumah mbok dimana, mari saya antar?”
"tidak usah nak, saya bisa pulang sendiri”
"mari saya antarkan saja mbok, karena hari sudah mulai larut.. lagian mbok kan tidak bawa payung, jadi saya akan antarkan mbok pulang ke rumah”
"terimakasih nak, tapi saya bisa pulang sendiri, sekarang sepertinya hujan sudah mulai reda. Saya pulang dulu, selamat malam”. Orang tua itu dengan langkah tergesa-gesa pergi meninggalkan aku sendiri.

Akibat percakapan kami yang terlalu keras, sang pemilik rumah datang menghampiriku bersama dengan istrinya yang sedang hamil tua. "maaf mas, ada kejadian apa ya? Sebab, barusan saya mendengar suara mas sedang ngobrol di luar?”
"tidak ada masalah apa-apa pak, saya hanya kebetulan lewat dan ngobrol dengan nenek-nenek yang sedang numpang berteduh disini tadi”
"Ooohh maaf mas, saya kira ada kejadian apa”
"tidak ada pak, sebaiknya bapak dan istri bapak istirahat saja, sebab wanita yang sedang hamil tua tidak baik berada di luar pada malam hari. Saya akan terus mengawasi kemanan desa kita, selamat malam!”
"baiklah mas, terimakasih” masuk dan menutup pintu rumahnya.

Keesokan paginya nenek yang aku lihat tadi malam kebetulan lewat di depan rumahku, sepertinya orang tua tersebut hendak pergi membeli sarapan ke sebuah warung lontong, aku melihat nenek itu menggunakan sebuah selendang hitam yang di lilitkan pada lehernya dengan baju daster yang kumal dan sandal jepit berwarna biru. Wanita itu berasal dari kalangan kurang mampu, karena sehari-hari aku tidak pernah melihat ada kerabatnya yang datang, bahkan saat hari raya sekalipun. Yang membuat hatiku bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang wanita tua dapat bertahan hidup tanpa ada sebuah profesi. Lebih mengherankan lagi nenek tua tersebut tampak selalu sehat dan kuat. Aku saja yang masih muda seringkali sakit, kenapa orang tua sepertinya tidak terkena sakit apapun?
Malam harinya saat hujan gerimis ketika aku hendak berangkat ronda malam, aku mendengar teriakan seseorang, suara itu berasal dari arah rumah orang kaya di belakang rumahku, ternyata benar pikirku tersebut. Pemilik rumah itu kebetulan sedang hamil 5 bulan dan  tengah mengandung anak pertama, suaminya sedang tidak berada di rumah. Aku segera mengambil kentongan dan berteriak sambil memukul kentongan tersebut "tolooooonngg…. tolooonngg…”

Banyak warga yang datang meghampir ke arahku "ada apa, ada apa? Kenapa berteriak?”
"ituu..ituu… orang belakang seperti sedang dalam bahaya, mari kita bantu beramai-ramai”
"ayoo… ayoo semua kita berangkat”. Kami semua segera berlari menuju rumah mewah tersebut. Saat hendak sampai, kami melihat sipemilik rumah yang sedang hamil tengah berlari dengan langkah kaki yang lambat meninggalkan rumahnya. Kami memberhentikan langkahnya, aku menanyakan apa yang sedang terjadi sehingga ia sampai pergi dari rumah "ada apa neng, kenapa ketakutan begitu?”
"bapak-bapak.. seeee… seee.. semuanya tolong saya?”
"ia neng, kami bantu neng.. tapi tolong ceritakan dengan jelas?”

Wanita itu benar-benar ketakutan, sehingga dia terbata-bata menceritakan apa yang sedang di alaminya "a..a…aaa…aaa..aaaanu pak, sa…saaa..saa..saya melihat hantu kepala terbang di kaca jendela kamar saya”. Sontak kami terkejut mendengar pernyataan wanita muda itu. Kami terlebih dahulu memastikan apa betul kejadian tersebut benar terjadi atau wanita itu hanya sedang berhalusinasi saja. Untuk lebih amannya kami menghubungi suaminya dan meminta agar datang menenangkan istrinya. Sementara, wanita itu kami titipkan di rumahku bersama dengan istri dan anak-anakku sampai suaminya datang. Begitu tiba, kami menceritakan kejadian yang di alami wanita tadi kepada sang suami, setelah itu kami menghantarkannya menemui istrinya ke rumahku "ini istri mas, tolong di jaga dengan baik. Pesan saya, sebaiknya mas jangan pernah tinggalkan istri yang sedang hamil sendirian di rumah, karena barusan istri anda melihat hantu kepala terbang di sekitar rumah anda tersebut”
"ya mas, saya sangat berterimakasih kepada mas dan juga seluruh warga yang telah rela datang menolong istri saya”. Sambil memeluk istrinya, ia pun berlalu membawa wanita muda itu pulang kembali, sedangkan aku dan warga lainnya segera bubar. Aku melanjutkan tugasku sebagai petugas kemanan desa, ketika ngopi di pos ronda sekitar pukul 00.15 malam dengan tidak sengaja aku melihat hantu kepala terbang melayang-layang ke arah rumah suami istri tempat seorang nenek singgah kemarin. Aku melihat hantu kepala terbang tersebut melayang ke dekat jendela kamar.

Bulu kudukku seketika itu langsung berdiri, jantungku berdebar kencang, kaki serta seluruh tubuhku menggigil, meskipun ada rasa takut aku tetap berusaha memberanikan diri dengan mengendap-endap untuk coba mengintip hendak kemana kepala terbang itu perginya. Karena tidak berhati-hati aku pun terjatuh tersandung batu dan berusaha bangkit secepat mungkin, tapi seketika itu juga hantu kepala terbang itu menghilang dan lenyap entah kemana. "ternyata benar yang di lihat wanita muda tadi, hantu kepala terbang itu nyata adanya, aku harus menghimbau warga agar berhati-hati.. hhmmm baiklah kalau begitu” bisikku dalam hati. Tak lama kemudian aku melihat sosok wanita tua ke luar dari jalan setapak belakang rumah sang pemilik, sepertinya ia dari arah sungai dan hendak pulang. Aku yang baru saja melihat hantu segera menyapa nenek tersebut "selamat malam mbok, bukannya mbok yang kemarin singgah di rumah ini ya?”
"ya, betul itu saya. Lalu kenapa?”
"sebaiknya mbok bergegas pulang, sebab malam ini ada kejadian menyeramkan yang tengah mengganggu warga”
"saya baru saja dari sungai”
"mbook.. saya barusan melihat hantu kepala terbang, saya tidak mengada-ada. Sebaiknya mbok pulang dengan segera”. Wanita tua itu hanya bisa menyunggingkan sedikit senyuman dari  bibirnya dan mulai mengajukan sebuah pertanyaan yang menurutku sedikit aneh "memangnya kenapa? jika hantu kepala terbangnya berada di depan kamu apa yang akan kamu lakukan nak? jangan nasehati saya, karena saya tidak takut akan hantu. Saya tau apa yang harus saya lakukan”  (memperbaiki selendang di lehernya). Sambil tertawa terbahak-bahak nenek tua itu pun pergi berlalu meninggalkan aku sendirian. Malam ini tidak ada kejadian aneh lagi setelah yang aku lihat tadi, desa aman sampai esok harinya aku mendengar kabar bahwa wanita pemilik rumah yang di datangi hantu kepala terbang kemarin malam telah kehilangan jabang bayinya secara tiba-tiba. Bagaimana bisa perut yang semula buncit bisa mengecil seketika dalam waktu satu malam? Sungguh kejadian yang aneh. "aku harus segera bertindak, jika tidak maka akan semakin banyak korban lainnya setelah ini” lirihku dalam hati kecil. Siangnya, aku memanggil seluruh warga laki-laki dan mengajak mereka untuk berjaga-jaga pada malam hari, agar tidak lengah dengan bahaya yang sedang menghantui desa kami. Hari ini merupakan malam jum’at kliwon yang menurut kepercayaan orang terdahulu biasanya pada malam seperti ini orang-orang yang menggunakan ilmu hitam akan melakukan ritualnya, serta malam dimana banyak setan berkeliaran. Cuaca sangat dingin, di tambah lagi hujan rintik-rintik turun membasahi pos  ronda, disini kami duduk dan bercengkrama sembari melakukan pengawasan ketat. Sudah 3 jam setelah waktu maghrib berlalu dan sepertinya masih tidak ada kejadian apa-apa. Sampai sekarang waktu telah menunjukkan pukul 11 malam dini hari, sayup-sayup kami mendengar bunyi lolongan anjing yang begitu keras membuat bulu kuduk kami semakin merinding, dan sesekali terdengar suara burung hantu dari atas pohon beringin yang hanya berjarak 100 meter dari pos ronda. Udara yang begitu dingin membuat kami ingin beristirahat sejenak, akhirnya kami tertidur pulas. Setengah jam tertidur aku pun terbangunkan oleh rintikan air dari atap seng bocor yang jatuh membasahi pipiku "aduuhhh… lagi enak-enaknya tidur malah di jatuhi air, malah sekarang jadi pengen pipis lagi” ucapku dengan suara pelan. Akhirnya aku pun membangunkan salah satu temanku Somad untuk menemaniku buang air ke sungai, sebab jalan ke sungai tersebut di tumbuhi rumput yang panjang dan jalannya yang licin membuat aku jadi takut terjatuh. "Mad, bangun dong… temani gue ke sungai yuk?”
"aahhh… loe ini gangguin orang lagi tidur aja sih”
"ayo dong…. gue kebelet banget nih”
diapun akhirnya duduk sambil menggesek-gesek matanya yang masih terlihat ngantuk dengan tangan "Ya..ya..yaaa… yuk gue temani”

Ketika aku dan Somad sampai di dekat sungai, aku melihat seorang wanita tua sedang berdiri membelakangi kami, aku mengajak Somad sembunyi di balik batu besar dekat semak belukar, dengan nada berbisik aku berbicara untuk meyakinkan temanku "Mad, sebaiknya kita sembunyi di sini dulu”
"ngapain sih sembunyi di tempat kayak gini, kalau ada ular gimana?”
"Loe diam aja dulu, tuh… ada nenek-nenek”
"memangnya kenapa? Ooooo….jangan-jangan loe mau ngajak gue ngintipin nenek itu ya?”
"ngaco’ loe Mad, loe liat aja nenek itu dari kemarin-kemarin seperti ada yang mencurigakan”
"nenek aja loe curigai, memangnya nenek bisa apa?”
Akhirnya sesuatu yang aku curigai pun benar terjadi, wanita tua tersebut membuka selendang hitamnya dan dengan susah payah kepalanya terpisah dengan badannya, wanita itu mengerang dengan suara yang sangat kuat, benar-benar pemandangan yang mengerikan, kepala dan isi perutnya melayang di udara, tidak dapat aku bayangkan bisa melihat proses kepala berpisah dengan tubuh.

Kepala buntung itu terbang meninggalkan badannya di tepi sungai, kami yang tengah melihat kejadian luar biasa itu pun langsung lari ketakutan, aku berlari sekencang-kencangnya menahan rasa ingin buang air akibat takut, aku membangunkan teman-temanku yang sedang tertidur pulas dengan memukul kentongan kayu sekeras-kerasnya "banguunn… banguunnn..  hantu leaakk… leaakk”
"mana…manaa… teriak warga yang terbangun dan berlari keluar rumah”. Para ibu yang sedang hamil di jaga ketat oleh suami masing-masing. Kami berpencar mengelilingi desa, mencari hantu yang berkeliaran tersebut. Sedangkan aku mengajak temanku pergi ke sungai tempat dimana tubuh hantu leak tadi berada. Saat hampir tiba di sungai, aku melihat semua warga tengah berlari mengejar kepala terbang tersebut, ada yang membawa kayu, ada juga yang membawa obor, serta membawa parang, kepala itu melayang ke sungai dan kembali menyatu dengan tubuhnya. Ternyata yang aku curigai benar, si mbok itu memang patut di curigai, dialah hantu kepala terbang yang memakan janin wanita hamil kemarin. Dia jugalah yang menjadi penyebab keresahan warga. Wanita tua tersebut aku ikat dan aku tangkap, kemudian kami serahkan kepada orang pintar. Rumah wanita tua tersebut juga kami bakar agar tidak ada lagi tempat baginya menetap di desa kami. Kami semua tidak mau tau bagaimana nasib dia selanjutnya, yang terpenting bagi kami adalah keamanan desa agar tidak ada lagi laporan warga mengenai hantu leak.

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :