Jum'at, 28 April 2017 / 1 Sya'ban 1438 H
Karya Tulis Detil

 FIKSI

Oleh :  Wita

Senin, 21/11/2016  15:46 WIB

Nana

Seorang gadis kecil yang bernama Nana juga mempunyai adik yang bernama Adit, Nana tinggal dengan ibunya yang sangat sayang pada Nana dan Adit, Nana dari kecil udah ditinggal ayah kandungnya, dan waktu Nana masih kecil saat berumur 2 tahun dan waktu itu Adit masih bayi, Nana tidak tahu kalau ayahnya pergi meninggalkannya dan adiknya. Nana waktu itu tidak mengerti kalau ayahnya pergi bukan meninggalkannya melainkan ayah dan ibu nya sudah berpisah yang tidak mungkin bersama lagi tinggal dengan ibunya, akhirnya ayahnya pergi tanpa tau kabar tentang keadaannya bagaimana, dan ayahnya pun tidak pernah mau tau tentang keadaan Nana dan Adit padahal mereka berdua adalah anak kandungnya sendiri, malah ayah Nana dan Adit tidak pernah peduli bagaimana keadaan anaknya serta ayahnya tak pernah mengunjungi Nana dan Adit sejak ayahnya pergi meninggalkan mereka berdua. Setiap saat Nana sangat merindukan kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah dia dapatkan waktu kecil, malah Nana tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, Nana pun tak pernah merasakan genggaman seorang ayah serta Nana tak pernah merasakan kalau ayahnya panggil nama nya seperti orang tua lainnya walaupun ayah mereka berpisah pasti ayahnya akan mengunjungi anaknya walaupun orang tua mereka tak tinggal serumah, tapi lain dengan kehidupan Nana malah ayah nya tak acuh pada Nana dan Adit padahal mereka kan anaknya juga walaupun ayah dan ibunya tak bisa bersatu tapi kasih sayang seorang ayah pasti ada selalu tapi Nana tak pernah dapat ataupun tak pernah merasakan dari ayahnya, hanya kasih sayang seorang ibu yang Nana dan Adit dapatkan saat Nana mulai beranjak dewasa, dan pada suatu hari Nana melihat seorang anak bersama ayahnya pergi bermain,  hati anak itu senang sekali. Anak itu digendong ayahnya, Nana hanya bisa melihatnya saja lalu berkata dalam hati "andai saja aku diposisi anak itu pasti aku merasakan kebahagiaan itu yang sama dirasakan anak itu”. Pada suatu sore Nana diajak pergi kerumah Ani, Ani adalah teman sebayanya. Setibanya di rumah Ani Nana melihat Ani sedang berbicara dengan ayahnya,  bercanda tawa, bercerita, sambil tersenyum bersama ayahnya. Nana merasa iri sambil berbisik di dalam hatinya "kenapa aku tidak pernah seperti itu dengan ayahku, kapan ya aku bisa seperti teman ku Ani... berbicara dengan ayah,  canda tawa, sambil bercerita dengan ayah tapi apa daya itu hanya khayalan saja”.

Setelah itu Nana minta izin pada Ani untuk pamit pulang ”Ani… Nana pulang dulu ya…?”
"Ia Nana, hati-hati yaaa?” lalu Nana pergi meninggalkan rumah Ani. Setelah sampai dirumah, Nana menemui Adit yang sedang termenung sendiri sambil memandang diluar, rupanya Adit melihat anak kecil sedang digendong ayahnya, lalu Adit berkata pada Nana, ”Adit juga mau digendong ayah seperti itu kak Nana, tapi ayah kok gak ada menemui kita?  ayah tidak sayang lagi dengan kita kak?”
"jangan bilang begitu Adit, ayah sayang kok sama kita berdua mungkin ayah belum ada waktu untuk menemui kita. Sabar ya Adit,  ayah tidak ada tapi ibu kan ada yang selalu memberikan kasih sayangnya kepada kita, selalu menjaga kita dan selalu mendampingi kita berdua”

Dari kejauhan ibunya melihat kedua anaknya sedang berbincang lalu ibunya langsung mendekati Nana dan Adit "Nana kenapa disini? kenapa gak diajak Adit main keluar, ya bu Nana juga mau ngajak adit pergi main keluar”.
Akhirnya ibu Nana memutuskan untuk mencari seorang pendamping yang akan menjadi dari anak-anaknya berdua, karna ibunya tahu kalau dua orang anaknya tersebut masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Walaupun ayah itu bukan ayah kandungnya tapi Nana merasa sangat senang sekali akan mempunyai seorang ayah  yang selama ini Nana inginkan dan Nana harapkan. Saat masih kecil dia sangat ingin merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah. Saat masih kecil Nana dan Adit tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah kandung, serta belaian seorang ayah pun Nana tak dapat. Apa yang di rasakan kini Nana sudah pasrahkan, mungkin ini jalan terbaik untuk ibunya karna dia gak mau kalah sama temannya karna mereka selalu mendapatkan kasih sayang seorang ayah kandungnya dan merasakan belaian kasih sayang seorang ayah, Nana juga ingin tau bagaimana merasakannya kasih sayang dari seorang ayah walaupun bukan dari ayah kandung, toh mungkin rasanya akan sama saja kasih sayang seorang ayah kandung dan ayah tiri.

Sampai Nana tamat dari SD, seharusnya yang menemani anaknya kesekolah adalah ayah kandung dan ibu. Nana mengharapkan ayah kandungnya yang datang, namun yang Nana harapkan dan Adit tidak pernah datang menemui nya, "bu kapan nana merasakan kebahagiaan seperti orang itu? bisakah Nana rasakan?” Nana tak pernah tahu bagaimana bentuk wajah ayahnya karna foto ayahnya saja tak ada ibunya menyimpannya kalau pun ada pasti Nana akan mencari ayahnya dimana pun ayahnya berada, tapi dia jadi sedih karna tak tau lagi caranya untuk mengetahui bentuk wajah ayahnya itu apakah ayahnya tersebut benar-benar sayang pada dia dan adiknya atau tidak. Bagaimana keadaannya pun dia tak tahu. Nana hanya menangis tersedu, kemudian ibunya merangkul Nana sambil berkata "sabar ya nak? kan ada ibu yang selalu menemani mu nak.. jangan menangis lagi. Hapuslah air matamu.. jangan biarkan air mata itu jatuh di pipimu. Ibu tak bisa melihat kamu sedih, karna ibu juga akan merasa sedih karnanya…”

Akhirnya Nana pulang kerumah dengan ibu dan adiknya, pulang dari sekolah melihat Nana lulus ibu merasa bahagia bahwa anaknya telah lulus. Ketika Nana sampai dirumah ada tetangga yang bilang pada ibu bahwa ayah sudah punya istri baru dan mempunyai seorang anak. Sudah sekian lama Nana tak mendengar kabar ayahnya, lalu Nana tak sabar lalu langsung di temuinya ayah kandungnya tersebut, pas Nana sampai dirumah istri baru ayahnya ia melihat wajah ayahnya untuk yang pertama kalinya yang belum pernah dilihatnya saat ia masih anak-anak. Hatinya merasa senang dan bahagia sehingga tidak bisa untuk diungkapkan dengan kata-kata. Saat ayahnya mau keluar, Nana tidak berselisih jauh dari ayahnya kemudian dia langsung bertatap muka. "ingin sekali rasanya mendekati ayah dan ingin sekali aku merangkul tangannya untuk berjabat tangan dengan ayahku, tetapi ayahku malah menjauhiku pergi meninggalkan aku seorang diri terdiam kaku dijalanan” ucapku dalam hati kecil. aku bertanya lagi dalam hati "kenapa ayah pergi meninggalkan ku tanpa mau mendekatiku, kenapa ayah tidak menyambut kedatangan ku ayah? kenapa kau malah meninggalkan aku sendirian disini? apakah aku bukan anak mu lagi? sambil menangis dijalan. Jujur saja hatiku terasa sakit saat ayahnya lari. Nana pun langsung pulang menemui ibunya, tiba-tiba ibunya bertanya , "bagaimana? apakah Nana telah bertemu dengan ayah?”
"sudah bu, tapi ayah lari dan menjauhi Nana bu… kenapa ayah seperti itu buu..?”
Ibunya hanya diam, kemudian memeluk anaknya yang sedang menangis
”lbu… Nana tetap senang kok, akhirnya Nana sudah bertemu dengan ayah dan melihat wajahnya walau hanya sekejap memandangnya tapi Nana bahagia bu, jadi Nana tahu bagaimana wajah ayah kandung Nana, walau Nana tak pernah mendapatkan kasih sayang darinya” sambil mengusap air matanya dan meninggalkan ibunya yang sedang berdiri memandannya pergi dari hadapannya.

Setelah sekian lama, akhirnya Nana meranjak usia dewasa. Nana tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya lagi, dan tidak pernah menemuinya lagi sampai nana lulus dari SMA. Sedangkan Adit, adiknya itu sudah mulai dewasa juga. Mereka tak pernah menanyakan ayah lagi pada ibunya karna ayahnya sudah bahagia dengan istri dan anaknya yang baru, sebab ayah Nana juga tak pernah datang menemui ataupun mengunjungi Nana dan Adit. Nana dan adiknya juga tidak ingin mencari tahu bagaimana keadaan ayah kandungnya itu, sebab mereka berdua telah mempunyai seorang ayah tiri yang selalu sayang pada mereka. Walaupun ayah sekarang bukan ayah kandungnya, tapi Nana dan Adit telah menganggap laki-laki yang baru itu sebagai ayah yang penyayang dan penuh kasih sayang kepada mereka. Sekarang Nana dan Adit sudah mengetahui dan dapat merasakan, bagaimana rasanya kasih sayang dari seorang ayah yang belum pernah di rasakan saat mereka masih kecil. Malah saat mereka mulai dewasalah baru mereka bisa mendapatkan seorang ayah lagi, "kenapa bukan kami dari kecil? Kenapa bukan dari sejak dahulu saja ibu mencari seorang ayah buat kami.. jadi kami tidak akan pernah merasakan kesepian yang selama ini kami rasakan..” bisiknya dalam hati.
sekarang keluarganya telah lengkap sama seperti yang lain, Nana bersyukur dan berterima kasih pada Allah, karna dia telah mempertemukan keluarganya dengan seorang ayah yang sayang pada mereka. Mereka sangat senang mempunyai ibu yang telah membesarkan mereka berdua semenjak dari kecil sampai Nana dan Adit telah beranjak dewasa. Nana dan Adit bangga karna telah memiliki seorang ibu yang telah sabar menghadapi mereka berdua, memberikan kasih sayang yang begitu luar biasanya. terima kasih ibu.

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :