31 Agustus 2017

-

Temu Ramah dan Silaturrahmi dengan Perantau Palembayan ( Malaysia & Indonesia) dengan Tema “ Mampaharek Silaturahmi antaro rantau jo kampuang halaman”

-

Melepas Pawai Takbiran dalam Rangka Menyambut dan Memeriahkan Hari Raya Idul Adha 1438 H/2017 M

» jadwal kegiatan lainnya

Jum'at, 24 November 2017 / 5 Rabiul Awwal 1439 H
Berita Detil

Sabtu, 11/11/2017  23:57 WIB

Pahlawan Nasional Asal Sumbar, Paling Banyak "Urang" Agam

Pahlawan Nasional Asal Sumbar, Paling Banyak

Setiap tanggal 10 November, seluruh bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, mengenang para pendahulu, pahlawan, perintis kemerdekaan, para pendiri Republik Indonesia dengan segenap pemikiran, tindakan serta gerakan perjuangan kolektif yang mereka lakukan.

Sehingga, saat ini kita semua bisa menikmati hidup di bumi Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Banyak pahlawan nasional yang merebut kemerdekaan dari penjajah. Salah satunya berasal dari Sumatera Barat, bahkan banyak berasal dari KAbupaten Agam

Berikut riwayat singkat mereka,

1. Abdoel Moeis

Lelaki kelahiran Sungaipua, Agam, 3 Juli 1883 ini, merupakan pahlawan nasional pertama yang dikukuhkan Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

Dia merupakan seorang wartawan, penulis, dan sastrawan yang menentang keras kolonialisme Belanda di Indonesia, meskipun dia pernah menjadi anggota Volksraad atau semacam Dewan Perwakilan rakyat Hindia Belanda mewakili Sarekat Islam.

Jauh sebelum wafat di Bandung, Jawa Barat pada 17 Juni 1959, dalam usia 76 tahun, penulis novel “Salah Asuhan” yang difilmkan Asrul Sani ini, pernah dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian.

Di akhir hayatnya, Abdoel Moeis mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda.

2. Haji Agus Salim

Diplomat jenaka kelahiran Koto Gadang, Agam, 8 Oktober 1884 ini, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1961. Mantan anggota Volksraad utusan Sarekat Islam ini, merupakan anggota Tim 9 dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Inyiak Agus Salim yang dikenal sebagai The Grand Old Man Indonesia, juga pernah menjadi Menteri Luar Negeri. Bahkan, sebelum wafat di Jakarta, pada 4 November 1954, mantan ketua Dewan Kehormatan PWI ini, masih dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

3. Tan Malaka

Bapak Republik Indonesia ini bernama asli Ibrahim, lahir di Pandang Gadang, Suliki, Limapuluh Kota, 21 Februari 1897. Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno sejak 1963. Dia diyakini wafat di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949. Makamnya, kini ada dua. Selain di Selopanggung, juga ada replika makam di Pandam Gadang.

4. Sutan Syahrir

Perdana Menteri Indonesia pertama ini lahir di Padangpanjang, 5 Maret 1909, ibunya berasal dari Koto Gadang, Agam, dan ia masih punya hubungan kekerabatan dengan Rohana Kudus, wartawan wanita yang terkenal itu. Pendiri Partai Sosialis Indonesia ini, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 9 April 1966.

5. Muhammad Yamin

Mendikbud ke-9 dan Menteri Penerangan ke-14 ini, lahir di Talawi, Sawahlunto, 24 Agustus 1903. Majalah Tempo menulis sosok Profesor Muhammad Yamin sebagai seorang Penggila Indonesia yang dihujat dan dipuja.

M. Yamin wafat di Jakarta, 17 Oktober 1962, negarawan yang ahli konstitusi, dan juga seorang sastrawan, sejarawan, serta budayawan ini, dimakamkan di Sawahlunto. Ditetapkan sebagai pahlawan sejak 1973.

6. Tuanku Imam Bonjol

Pria  bernama asli Muhammad Shahab ini, diperkirakan lahir di Bonjol, Pasaman, 1 Januari 1772. Ayahnya bernama Khatib Bayanuddin Shahab, juga seorang ulama, asal Sungai Rimbang, Suliki, Limapuluh Kota. Tuanku Imam Bonjol ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 6 November 1973, perjuangannya melawan Belanda dikobarkan melalui Perang Paderi yang terkenal itu.

Diajak berunding ke Palupuh, Agam, pada Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol yang juga dikenal sebagai Peto Syarif, malah ditangkap Belanda. Awalnya Imam Bonjol dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian, pemimpin ulama Minangkabau yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan ini, dibuang lagi ke Ambon, Maluku. Setelah itu, baru dibuang ke Minahasa, Manado. Dimakamkan di Lotek, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864.

7. Rasuna Said

Wanita kelahiran Maninjau, Agam, 14 September 1910 ini, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1974. Perjuangannya melawan penjajah, tidak hanya lewat tulisan di media yang ia pimpin, tapi juga lewat pergeraan di organisasi.

Rasuna Said merupakan wanita pertama di Indonesia yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda.

Sebelum wafat di Jakarta pada 2 November 1965, Rangkayo Rasuna Said, pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera. Kemudian, anggota DPR RIS, dan  anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Rasuna Said satu-satunya perempuan di Sumatera Barat yang dapat gelar Pahlawan Nasional. Perjuangannya sejajar dengan dengan Rasimah Ismail yang berasal dari Jambu Air, Bukittinggi.

8. Ilyas Ya’kub

Ulama yang pernah menjadi wartawan, dan tercatat sebagai pendiri Partai Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) ini, lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, 14 Juni 1903. Ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia sejak 1999. Perjuangannya melawan kolonialisme di Indonesia, dimulai sejak mendalami ilmu agama di Mesir.

Ilyas Ya’kub pernah dibuang Belanda ke Digul, Papua. Sebab, masih vokal menantang penjajahan, dia juga pernah dibuang Belanda ke Malaysia, Singapura, Brunai, dan Australia. Wafat di Koto Barapak, Bayang, Pesisir Selatan, 2 Agustus 1958.

9. Hazairin Harahap

Pria berkacamata ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 28 November1906. Dia adalah seorang pakar hukum adat lulusan Sekolah Tinggi Hukum Jakarta (Recht Hoge School). Pernah menjabat Menteri Dalam Negeri dan sebagi Kepala Bagian Hukum Sipil Kementerian Kehakiman.

Hazairin tercatat pernah  mendirikan Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR). Hazairin meninggal di Jakarta, 11 Desember1975 pada umur 69 tahun. dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Pada tahun 1999 Pemerintah Indonesia mengukuhkan Hazairin sebagai Pahlawan Nasional.

10. Bagindo Aziz Chan

Wali Kota Padang kedua setelah kemerdekan Republik Indonesia ini, lahir di Padang, 30 September 1910. Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 2005 silam. Perjuangan untuk bangsa dan negara, tidak usaha ditanya lagi.

Mantan aktifis Persatuan Muslim Indonesia ini, tidak hanya melawan Belanda lewat surat kabar Republik Indonesia Jaya. Tapi, juga ikut bertempur di medan perang. Bagindo Azizchan meninggal dalam pertempuran melawan Belanda di Padang, 19 Juli 1947 dalam usia 36 tahun.

11. Adnan Kapau Gani

Dokter kelahiran Palembayan, Agam, 16 September 1905 ini, merupakan Wakil Perdana Menteri Indonesia yang pertama. Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 2007 silam. Perjuanganya untuk Bangsa, dimulai sejak keterlibatan dalam Kongres Pemuda II pada 1928, berlanjut hingga zaman kependudukan Jepang.

Setelah Indonesia Merdeka, Adnan Kapau Gani pernah menjadi Residen Sumatera Selatan, Menteri Kemakmuran pada Kabinet Syahrir II dan Kabinet Amir Syarifuin II. Sebelum wafat pada 23 Desember 1968,  mantan Gubernur Militer Sumatera Selatan ini pernah dipercaya sebagai Rektor Universitas Sriwijaya.

12. Abdoel Halim

Pria asal Banuhampu, Agam, kelahiran 27 Desember 1911 ini, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 2008. Dia pernah menjabat Perdana Menteri Indonesia ke-4 dan Menteri Pertahanan di zaman Presiden Soekarno. Kepahlawananya dimulai sejak menjadi Wakil Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) 1945.

Alumni Fakultas Kedokteran UI ini juga pernah terlibat dalam pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948 atau semasa Soekarno-Hatta ditawan Belanda dalam Agresi ke-II.

Sebelum wafat pada 4 Juli 1987 dalam usia 75 tahun, Abdoel Halim pernah membentuk Voetbalbond Indonesische Jakarta yang kini dikenal sebagai Persija. Dia juga pernah menjadi Ketua Komite Olimpiade Indonesia.

13. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka)

Ulama besar kelahiran Tanah Sirah, Nagari Sungaibatang, Maninjau, 17 Februari 1908, ini, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 2011 silam. Perjuangan Buya Hamka untuk bangsa, tidak hanya dikobarkan lewat tulisan, tapi juga dibuktikan di berbagai di medan juangan. Bahkan, Buya Hamka pernah menjadi pemimpin Front Pertahanan Nasional Sumbar semasa Agresi II Belanda.

Sebelum wafat  di Jakarta, 24 Juli 1981, dalam  usia 73 tahun, Buya Hamka yang aktif di Muhammadiyah, pernah dipercaya sebagai ketua MUI pertama.

Sastrawan yang menulis Tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah ini, juga mendapat gelar doktor dari Universitas Alazhar dan Universitas Malaysia. Kemudian, Buya Hamka juga menjadi Guru Besar Universitas Moestopo, Jakarta.

14. Mohammad Natsir

Perdana Menteri Indonesia ke-5 ini lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, 17 Juli 1908. Pak Natsir yang pendiri Masyumi itu, pernah menjadi Presiden Liga Muslim Dunia dan ketua Dewan Masjid Dunia. Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 2008 silam, setelah melewati proses yang begitu panjang. Wafat di Jakarta, 16 Februari 1993, dalam usia 84 tahun.

15. Mohammad Hatta

Kehidupan proklamator Republik Indonesia kelahiran Bukittinggi, 12 Agustus 1902 ini, sungguh menggetirkan. Sudahlah tidak mampu membeli sepatu Bally, pria berdarah Batuhampar, Limapuluh Kota ini, seperti halnya Bung Karno, baru ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2012 silam.

Meski baru ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2012, namun nama tokoh jujur, lugu, dan sederhana ini, diabadikan di banyak tempat. Tidak hanya jalan-jalan utama, tapi juga bandara, universitas, dan dalam acara penghargaan. Bung Hatta wafat di Jakarta, 14 Maret 1980. Hujan air mata dari pelosok negeri, melepas kepergiannya.

Selain 15 tokoh-tokoh di atas, ada sejumlah pahlawan nasional yang masih ada hubungan emosional dengan Sumatera Barat. Seperti, Mr Syafruddin Prawiranegara yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional 2011 silam, berdasarkan usulan dari Banten dan dari Sumbar.

Kemudian, Tuanku Tambusai, Pahlawan dari Riau, juga tidak lepas dari Sumatera Barat. Karena dia lahir di  Dalu-Dalu, desa yang didirikan pedagang Minangkabau di tepi Sungai Sosah, anak Sungai Rokan.

Sumber : halosumbar.com

 Disajikan Oleh : Dinas Komunikasi dan Informatika
Share di situs jejaring sosial :   

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama : (*dibutuhkan)

Alamat : (*dibutuhkan)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*dibutuhkan)

Komentar : (*dibutuhkan)

Security Code: