31 Agustus 2017

-

Temu Ramah dan Silaturrahmi dengan Perantau Palembayan ( Malaysia & Indonesia) dengan Tema “ Mampaharek Silaturahmi antaro rantau jo kampuang halaman”

-

Melepas Pawai Takbiran dalam Rangka Menyambut dan Memeriahkan Hari Raya Idul Adha 1438 H/2017 M

» jadwal kegiatan lainnya

Selasa, 17 Oktober 2017 / 26 Muharram 1439 H
Berita Detil

Sabtu, 12/08/2017  15:02 WIB

Rinuak Menghilang, Kini Bada Yang Dipalai Mulai Dipromosikan

RinuakMenghilangKiniBadaYangDipalaiMulaiDipromosikan.jpg

Pencemaran perairan Danau Maninjau, kecamatan Tanjung Raya,Kabupaten Agam, ternyata berdampak luas pada perekonomian rakyat, baik para pedagang makanan serba ikan danau, maupun para nelayan tradisional, dan para pengusaha keramba jala apung (KJA).

Banyak pedagang makanan binaan Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Agam yang menutup kedai mereka di sepanjang pinggiran jalan Raya Lubuk Basung-Maninjau. Alasan mereka nyaris sama, yaitu rinuak menghilang, bada sulit diperoleh dan harganya mahal. Begitu juga pensi. Ketiga komoditas itu merupakan bahan utama kedai mereka.

Yang bertahan, mencoba mengalihkan dagangan mereka, dengan mengolah bahan mentah yang ada. Di antaranya mengolah bada menjadi palai,sebagai pengganti palai rinuak.

Tek Farida (59), misalnya. Ia mencoba membuat palai bada, dan aneka penganan lainnya. Ia juga melengkapi kekosongan penganan yang berasal dari rinuak dengan penganan lainnya.

“Memang tidak selaris palai rinuak, tetapi lumayanlah. Bila ada pelanggan yang menanyakan palai rinuak, dengan berseloroh saya bilang rinuaknya lagi merantau. Sebagai gantinya kini ada palai bada,” ujarnya, dengan senyum penuh arti.

Ia mengaku, modal sebungkus palai bada tidak murah. Makanya ia terpaksa menjual Rp2.500/bungkus. Sedangkan bada asap dibanderol Rp300.000 sampai Rp350.000/Kg, dan nila asap Rp100.000/Kg

“Walau mahal, kami tetap menyediakannya, karena ada saja pelanggan yang membutuhkan. Hanya stoknya yang tidak banyak,” ujarnya pula.

Kepala DPKP Agam, Ermanto, S.Pi, M.Si, ketika dihubungi Kamis (10/8/), mengaku kalau kini banyak pedagang makanan serba ikan binaan pihak DPKP Agam, yang menutup kedai mereka.

Alasannya, bahan mentah untuk dagangan mereka, sepeti rinuak, bada, dan pensi, suli diperoleh. Bahkan rinuak sudah menghilang dari Danau Maninjau sejak tahun lalu.

Hermanto menyayangkan sikap dan Keputusan yang diambil pedagang tersebut. Menurutnya, bila rinuak tidak ada, bada dan pensi langka, para pedagang itu bisa mengolah ikan yang ada, seperti nila. Nila bisa diolah menjadi 10 macam produk. Di antaranya ikan asap, bakso ikan, dan makanan olahan lainnya.

 Disajikan Oleh : Dinas Komunikasi dan Informatika
Share di situs jejaring sosial :   

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama : (*dibutuhkan)

Alamat : (*dibutuhkan)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*dibutuhkan)

Komentar : (*dibutuhkan)

Security Code: