17 Desember 2017

-

Menghadiri Tablig Akbar dan Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Tahun 1439 H dengan Pembicara Buya Drs. H. Abubakar Syarif. M, Hi (Pensiunan Hakim Tinggi Agam Jakarta)

-

Malewakan Gala Sako Pasukuan Koto Payuang Panji Dt. Sati, Nagari Balingka Kecamatan IV Koto

» jadwal kegiatan lainnya

Minggu, 17 Desember 2017 / 28 Rabiul Awwal 1439 H
Berita Detil

Jumat, 21/04/2017  12:36 WIB

Gerakan Feminisme Usung Kesetraan Gender

GerakanFeminismeUsungKesetraanGender.jpg

Gerakan feminisme yang mengusung kesetaraan gender, yang ramai dibicarakan saat ini, sejatinya tidak diperlukan di Sumatera Barat, yang berazaskan falsafah Adat Minangkabau. Perempuan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam pandangan Adat Minangkabau. Dalam ajaran Adat Minangkabau ditanamkan rasa hormat dan memuliakan perempuan, sebagai keagungan dalam hidup berkaum dan berkeluarga, yang menjadi lambang keturunan di Minangkabau, atau disebut juga dengan Matrilinial.

 

Di Minangkabau keturunan ditarik dari garis ibu. Seorang anak yang dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan, akan mempunyai suku yang sama dengan ibunya. Bukan menurut suku bapak, seperti kebanyakan adat di daerah lain di Indonesia, bahkan di dunia yang pada umumnya menganut patrilinial. Kaum ibu di Minangkabau disebut dengan Bundo Kanduang, Bundo adalah ibu, Kanduang adalah sejati. Jadi Bundo Kanduang adalah ibu sejati, yang memiliki sifat-sifat keibuan dan kepemimpinan.

 

Bicara tentang peran seorang Bundo Kanduang adalah sebagai ibu sejati. Namun, apakah hal itu sudah teraplikasi sepenuhnya?. Mungkin inilah yang terlupakan. Falsafah Minangkabau, Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABSBK) nyaris terabaikan. Dapat kita lihat dewasa ini, melalui perubahan globalisasi dan pengaruh modrenisasi yang gamblang diciplak anak muda generasi penerus.

 

Dampak dari globalisasi dan  modrenisasi tersebut menujukkan perubahan perilaku negatif. Contoh sederhana, ketika seorang anak kurang memedulikan lagi interaksi antar sesama, baik di rumah dengan orang tua (keluarga), teman, lingkungan sekolah, dan tempat umum. Mereka dengan asyiknya memainkan gadget tanpa memedulikan lingkungan sekitar. Istilahnya seperti "Ayam Dek Akuak". Ironinya, ini tidak terjadi di kalangan remaja saja, namun sudah ke semua kalangan anak-anak, dewasa, bahkan orang lanjut usia. 

 

Dalam konteks ini, kita tidak menyalahkan perkembangan peradapan dunia saat ini. Dengan teknologi yang ada, kita juga dituntut melek teknologi. Namun, seyogyanya hal itu digunakan kapan perlunya saja. Di dalam sebuah keluarga, sebagai orang tua dalam hal ini, Ibu, sangat berperan untuk mengawasi anak di rumah, mengontrolnya dengan memberikan pendekatan moral, agama, dan spritual terhadap anak.

 

Tidak sampai di sana, saat ini para remaja sudah banyak yang mulai meninggalkan norma adat. Adat berpakaian, bicara, dan sopan santun. Miris sekali ketika ketika ada seorang pengantin perempuan melakukan foto prewedding. Sebelum akad nikah sudah berfoto selayaknya suami istri.

 

Bagi anak perempuan di Minangkabau tidak tau lagi apa itu "Sumbang Duo Baleh". Sumbang (salah) adalah segala sesuatu yang salah dan melanggar ketentuan adat, terutama norma kesopanan. Setiap perempuan adalah calon Bundo Kanduang. Di tangannya nanti akan diwariskan  harta pusako  milik kaumnya. Selain itu, perempuan nanti akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Sehingga adab dan nilai sopan santun perempuan haruslah terjaga.

 

Sumbang Duo Baleh  adalah peraturan tidak tertulis dalam adat Minang, yang berisi tentang tata krama dan nilai sopan santun. Di dalamnya termuat dua belas ketentuan dan larangan yang mesti ditaati setiap perempuan Minang. Melanggar aturan ini akan berakibat hukuman malu, tidak hanya kepada dirinya sendiri, tapi juga mamak dan kaumnya.

 

Adapun kedua belas Sumbang tersebut adalah, Sumbang Tagak (salah ketika berdiri), Sumbang Bajalan (salah ketika berjalan), Sumbang Bakato (salah berbicara), Sumbang Mancaliak (salah dalam melihat), Sumbang Makan (salah ketika makan), Sumbang Berpakaian (salah ketika berpakaian), Sumbang Karajo (salah ketika bekerja), Sumbang Tanyo (salah ketika bertanya), Sumbang Jawek (salah dalam menjawab), Sumbang Bagaua (salah dalam bergaul), dan Sumbang Kurenah (salah dalam bertingkah laku).

 

Mungkin semua orang di Minang terheran-heran ketika saat "Baralek" (pesta) yang seharusnya menggunakan memakai "Sirih" untuk mengundang orang. Namun, saat ini diganti dengan "Gulo-gulo" atau permen. Makan dengan adat duduk secara bersama yang dihidangkan, diganti dengan hidangan prasmanan. Lap tangan (kain) yang seharusnya digunakan untuk membersihkan tangan usai makan, diganti dengan tisu atau serbet.

 

Siapa yang disalahkan..???. Kembali pada diri kita sendiri . Peran niniak mamak bersama bundo kanduang dan segenap lembaga nagai di dalam suatu nagari, juga tidak lepas dari peran pemerintah sebagai pengatur dan pengawasan jalannya adat tersebut.

 

Meski demikian, hal itu akan tetap terbantahkan dan sia-sia, kalau tidak adanya tekad dan kesadaran sendiri dari setiap individu. 

 

Menyikapi hal tersebut, Ketua Bundo Kanduang Provinsi Sumbar, Putri Reno Raudah Thaib kepada AMC, saat membuka seminar sehari GOW di Lubuk Basung, Senin (17/4) membenarkan kondisi itu terjadi saat ini di Ranah Minang. Hal itu dikemukannya melalui diskusi tanya jawab, yang dilakukan dengan peserta seminar yang tergabung pada gabungan organisasi wanita se-Kabupaten Agam.

 

"Saya sangat miris melihat norma-norma adat Minangkabau yang berpedoman kepada ABS-SBK terlupakan. Saya tidak tahu apa yang terjadi belasan tahun bahkan puluhan tahun yang akan datang. Saya tidak tahu apa masih ada norma adat Minangkabau dibudayakan anak generasi kita nanti. Apakah masih ada kato nan ampek itu?.

 

Semua kembali kepada niat dan tekad kita untuk tidak melupakan sendi-sendi dari kekuatan adat Minangkabau. Melakukan pengawasan dan kontrol terhadap anak secara terus-menerus. Membentengi anak dengan nilai keagamaan. 

 

Keterkaitan peran seorang ibulah yang paling dominan dalam hal ini. Karena, Ibulah yang bisa melakukan pendekatan secara persuasif, dan lebih mengerti tentang apa yang dibutuhkan anak secara psikologi. 

 

Menurutnya, Ibu dituntut lebih jeli dalam mendidik anak. Di samping orang tua, Ibu harus mampu memosisikan dirinya sebagai sahabat, teman kerja/sekolah, sehingga apabila sang anak mendapat masalah, ia akan lebih mudah curhat dengan sang ibu, sehingga secara tidak langsung sangd ibu sudah mengetahui tentang apa yang akan dan sudah dilakukan oleh anak.

 

"Saya berharap hal ini diperhatikan oleh seorang Ibu di rumah. Karena kuat dan baiknya suatu negara atau bangsa juga terletak pada baiknya kaum perempuan. Mudah-mudahan fungsi perempuan dalam peradaban Minangkabau bisa kembali lagi seperti dahulunya, sehingga perubahan apa pun yang terjadi kita sudah membentenginya dengan berpedoman ABS-SBK," ujarnya.

 Disajikan Oleh : Dinas Komunikasi dan Informatika
Share di situs jejaring sosial :   

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama : (*dibutuhkan)

Alamat : (*dibutuhkan)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*dibutuhkan)

Komentar : (*dibutuhkan)

Security Code: